Hadiri Acara Warga Muna, Gubernur ASR Memukau dengan “Balaha Djaja”

75
Gubernur Andi Sumangerukka (ASR) menghadiri acara silaturahmi akbar masyarakat Muna di kawasan Eks MTQ, Kota Kendari. ASR hadir dengan mengenakan pakaian adat Muna yang disebut Balaha Djadja. Nampak Gubernur duduk di podium utama diapit dua tokoh utama Muna yakni Bupati Muna Barat, La Ode Darwin dan mantan Bupati Muna yang kini jadi anggota DPR RI, Ridwan Bae. FOTO : FB Dinas Kominfo Sultra

 

KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Silaturahmi akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) yang digelar Minggu (19/7) di Kota Kendari benar-benar jadi panggung bagi aneka tradisi, budaya dan adat masyarakat Muna. Mereka yang hadir nyaris semuanya mengenakan pakaian adat terbaik, termegah dengan aneka motif.
Salah satu tetamu yang hadir dan menarik perhatian adalah Gubernur Sultra Andi Andi Sumangerukka (ASR). Orang nomor satu di Bumi Anoa ini terpantau hadir dalam acara tersebut dengan memakai baju adat Muna yang dalam sebutan lokal dilabeli sebagai “Balaha Djadja”.

Baju adat ini merupakan pakaian yang dipakai oleh tamu-tamu terhormat. Gubernur ASR mengenakan Baju adat Balaha Djadja berwarna hitam, dimana kedua ujung lengan tangan, kerah hingga di bagian kancing baju disisi kiri dan kanan dihiasi warna kuning emas dan biru. Sementara dipinggangnya, ASR terlihat dua sarung adat melingkari badannya.

Di bagian atas terlihat adat berwarna kuning, dibawahnya sarung adat berwarna hitam dengan lis biru. Sedangkan celana panjangnya, berwarna hitam. Mantan Panglima komando daerah militer (Pangdam) VII Wirabuana-kini Pangdam XIV Hasanuddin-juga mengenakan kampurui berwarna biru dipadu warna kuning emas. Penampilan ASR dengan memakai baju adat Muna makin bersahaja, berwibawa dengan sebuah keris yang terhunus di pinggang kirinya.

Gubernur ASR tiba di Eks MTQ Kendari, tempat silaturahmi akbar Masyarakat Muna sekitar pukul 09.42 Wita. Saat turun dari mobil dinasnya DT 1, mantan Komandan Korem 143 Halu Oleo ini terlihat sudah mengenakan baju adat Muna. ASR langsung dijemput Danrem 143 Halu Oleo Brigjen TNI Raden Wahyu Sugiarto, Wakapolda Brigjen Budi Hermawan dan Ketua DPRD Sultra La Ode Tariala.

Gubernur ASR (tengah) berfoto bersama belasan tokoh masyarakat Muna dalam acara Silaturahhmi Akbar Masyarakat Muna di Kota Kendari. FOTO : FB Dinas Kominfo Sultra

 

Gubernur ASR memang datang terlambat saat menghadiri silaturahmi akbar masyarakat Muna. Penyebabnya, Minggu pagi itu, mantan Kepala badan intelejen daerah (Kabinda) Sultra baru saja tiba dari Jakarta, usai menghadiri pesta pernikahan salah satu pejabat Polri. Saat tiba di bandara Halu Oleo, ASR langsung berganti pakaian dengan mengenakan baju adat Balaha Djadja, lalu menuju Eks MTQ Kendari.

Gubernur ASR kemudian mengikuti seluruh rangkaian silaturahmi akbar Masyarakat Muna di Eks MTQ. Ditemui usai menghadiri acara silaturahmi akbar Masyarakat Muna, Gubernur ASR mengatakan jika pakaian yang dikenakan merupakan baju adat Muna. “Ini baju adat Muna,” ungkap ASR singkat.

Ketua Majelis Adat Kerajaan Nusantara Muna, La Ode Riago mengatakan baju adat Balaha Djadja yang dipakai Gubernur ASR diacara silaturahmi KKMM merupakan baju kebesaran kerajaan Muna. Baju ini bisanya dipakai pada saat proses adat dan budaya, festival kerajaan Nusantara maupun pertemuan proses adat istiadat.

Baju adat yang dikenakan ASR disiapkan oleh panitia KKMM dimana yang pihak yang bertanggungjawab menyiapkannya adalah ketua dewan adat dan budaya KKMM sebagai lembaga otonom. La Ode Riago bilang, ASR mulai mengenakan baju adat Balaha Djadja di bandara Halu Oleo setelah pesawatnya mendarat dari bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
“Pak Gub (ASR) berganti pakaian adat Muna di ruang VIP bandara ruang saat tiba dari Jakarta,” kata La Ode Riago.

Baju adat Balaha Djadja didesain salah seorang putra Muna bernama Lukman Ichsan, salah satu Aparatur Sipil Negara di DPRD Kota Kendari. Amtenar yang menjabat analis keprotokoler DPRD Kota Kendari ini bilang ada tiga warna mencolok di baju adat yang dikenakan ASR. Warna hitam, kuning dan biru.

Khusus warna kuning melambangkan kemuliaan, kebesaran, kewibawaan dan kehormatan. Warna ini identik dengan lingkungan kerajaan atau kaum bangsawan (Kaomu) dan menggambarkan kepemimpinan yang bermartabat.

Warna biru melambangkan kebijaksanaan, ketenangan, kesetiaan dan ketangguhan hati. Biru juga dimaknai keluasan wawasan serta kemampuan seorang pemimpin menjaga keseimbangan dan kedamaian.

Untuk kancingnya berwarna kuning emas. Di kerajaan Muna, jumlah kancing serta hiasan pada Balaha Djadja menunjukan kedudukan atau jabatan pemakainya. “Jadi Balaha Djadja bukan sekedar pakaian adat, tetapi merupakan simbol kewibawaan, kehormatan, dan identitas budaya yang mencerminkan nilai-nilai kepemimimpinan yang ditinggalkan para leluhur,” ungkap Lukman. (Adhi)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.