Indonesia Lepas Ekspor 4,82 Ton Kopi Olahan ke China

1,008

 

 

                                                                                                                   Produk olahan kopi Indonesia PT UCC Victo Oro Prima —ist–

JAKARTA, LENTERASULTRA.COM – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyambut baik pelepasan ekspor produk olahan kopi Indonesia PT. UCC Victo Oro Prima ke Shanghai, China sebanyak 4,82 ton.

Pelepasan ekspor ini berlangsung dari Kawasan Industri Bogorindo, Sentul, Jawa Barat, pada Selasa (18/8).

Menurut Mendag Agus, pelepasan ekspor ini dapat memacu pelaku usaha dalam negeri terus melakukan ekspor meski di tengah pandemi agar dapat berkontribusi pada peningkatan ekspor nonmigas.

Pelepasan ekspor tersebut dihadiri Direktur PT. UCC Victo Oro Prima, Victor Waskito Purwana, didampingi Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan, Olvy Andrianita, bersama Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim, serta Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Jawa Barat, Saipullah Nasution.

“Kami sangat mengapresiasi pelaku usaha dalam negeri yang terus giat memajukan eskpor Indonesia, khususnya dalam situasi pemulihan ekonomi saat ini. Pemerintah melalui sinergi yang kuat antarkementerian/lembaga juga berkomitmen mendorong peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujar Mendag Agus dalam keterangan tertulis dikutip Asiatoday.id,  Kamis (27/8/2020).

Pelepasan ekspor ini merupakan yang perdana bagi perusahaan dengan menggunakan muatan kontainer penuh 1×20” FCL (full container load) untuk komoditas kopi olahan ke pasar China. Adapun produk yang diekspor berupa roasted coffee beans dengan tiga varian kopi, yakni kintamani blend, java blend, dan toraja blend.

Victor menjelaskan, pihaknya tidak mengekspor biji kopi mentah, melainkan dalam bentuk kopi olahan Indonesia terbaik.

PT UCC Victo Oro Prima bergerak di bidang penyangraian (roastery) kopi dengan standar internasional yang mengembangkan biji kopi lokal Indonesia dan mancanegara.

PT UCC Victo Oro Prima juga telah memiliki beberapa sertifikat yang dibutuhkan industri kopi olahan untuk memasuki pasar global, seperti sertifikat HALAL, ISO 22000, dan Rain Forest Alliance.

“Kami berkomitmen menawarkan dan menghasilkan kopi olahan terbaik di segmen kualitas tertinggi untuk hotel, restoran, kafe, dan juga keperluan industri,” ujar Victor.

Selama 2020 ini, total ekspor PT UCC Victo Oro Prima ditargetkan mencapai 20 ton kopi olahan dengan negara tujuan utama yaitu China dan Vietnam. Untuk pasar nasional, perusahaan juga menyuplai hampir 95 persen produk kopi ke pasar lokal, salah satunya ke gerai makanan siap saji.

“Riset dan terobosan inovasi selama masa kerja dari rumah yang memanfaatkan program-program percepatan ekspor juga menjadi kunci peningkatan ekspor tanah air,” jelas Olvy.

Menurut Olvy, Indonesia merupakan rumah dari kopi specialty yang terkenal akan rasa dan kualitasnya diakui secara global. Terdapat 31 produk kopi berindikasi geografis yang terdaftar pada Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham, seperti kopi arabika gayo, arabika mandailing, arabika kintamani, serta arabika java preanger dari Jawa Barat.

Kemendag juga berkomitmen terus meningkatkan akses pasar melalui penguatan peran Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), serta melalui perjanjian perdagangan internasional.

“Kami mengusahakan agar produk kopi olahan juga mendapat tarif 0 persen, bukan hanya produk biji kopi wholly obtained. Selain itu, hilirisasi produk kopi juga harus didukung dengan prinsip organik, ketertelusuran, serta keberlanjutan untuk meningkatkan daya saing produk kopi olahan di pasar internasional,” tegas Olvy.

Selain ekspor, Olvy juga menegaskan pentingnya pasar dalam negeri yang harus tetap dijaga.

Untuk itu, Kemendag juga mendukung gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia yang dicanangkan Presiden dengan mengajak masyarakat Indonesia membeli dan mengonsumsi karya produk dalam negeri, termasuk kopi Indonesia.

Sebagai referensi, kinerja ekspor produk kopi dan olahannya pada periode Januari–Juni 2020 sebesar USD620,41 juta, atau mengalami penurunan 8,57 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 678,55 juta.

Indonesia saat ini merupakan produsen kopi terbesar ke-4 dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Sedangkan menurut kinerja ekspornya, Indonesia berada di peringkat ke-7 sebagai eksportir kopi dan olahannya terbesar yang memasok 4,05 persen kebutuhan dunia pada kuartal II tahun 2020.

Tren ekspor kopi Indonesia dan produk olahannya selama tahun 2015-2019 mengalami penurunan rata-rata 1,09 persen. Beberapa hambatan dan tantangan dalam ekspor kopi tanah air, diantaranya yaitu terganggunya rantai distribusi yang disebabkan penerapan karantina wilayah maupun lockdown di negara tujuan ekspor, penurunan harga kopi dunia, serta adanya hambatan teknis perdagangan seperti isu kontaminasi bahan kimia jenis Glyphosate Kopi Aceh Gayo (contohnya di Jerman, Prancis dan Inggris). (AT Network)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU