Dicengkram Covid-19, Ekonomi Indonesia Terpuruk

950

 

Kantor Kementerian Keuangan RI. —ist—

JAKARTA, LENTERASULTRA.COM – Pandemi coronavirus (Covid-19) yang mencengkram Indonesia membuat ekonomi terpuruk.Ekonomi Indonesia dinilai menuju skenario sangat berat dan diprediksi minus 0,4 persen.

Menurut Kepala BKF Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, pelemahan ekonomi Indonesia sudah terlihat pada kuartal I-2020 yang hanya mencapai 2,97 persen. Artinya perekonomian sudah mengalami kontraksi cukup dalam imbas pandemi covid-19.

“Hal ini mengindikasikan tekanan lebih berat akan dialami sepanjang 2020, artinya kita belum selesai. Pertumbuhan ekonomi terancam bergerak dari skenario berat yang tadi 2,3 persen menuju skenario sangat berat minus 0,4 persen,” jelasnya melalui siaran virtual di Jakarta dikutip Asiatoday.id, Rabu (17/6/2020).

Pemerintah akan berupaya melakukan penanganan covid-19 secara efektif agar pemulihan ekonomi secara bertahap bisa dicapai. Pemerintah juga mengambil langkah luar biasa (extraordinary) agar terhindar dari kondisi ekonomi di skenario sangat berat.

“Untuk itu langkah kebijakan penanganan covid-19 dan dampak sosial ekonomi harus diperkuat dan dilaksanakan efektif agar pemburukan lebih lanjut dapat diminimalkan,” terangnya.

Saat ini prioritas utama pemerintah yakni melakukan refocusing dan realokasi anggaran untuk menangani bidang kesehatan, jaring pengaman sosial, dan insentif bagi dunia usaha. Ketiganya menjadi syarat agar ekonomi bisa kembali pulih.

“Pemulihan sosial ekonomi membutuhkan respon kebijakan yang cepat, dengan biaya yang besar dan dipastikan membutuhkan waktu yang panjang,” tandasnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin mengalami kontraksi imbas pandemi covid-19. Bahkan pertumbuhan ekonomi diprediksi akan minus 3,1 persen pada kuartal II-2020.

Menurutnya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini. Apalagi kebijakan PSBB diberlakukan di sejumlah daerah yang memiliki kontribusi ekonomi cukup besar.

“Seperti DKI Jakarta, Jabodetabek atau Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat dengan pembatasan sosial yang cukup restricted, ini akan mempengaruhi kinerja ekonomi di kuartal II yang kita perkirakan ada di negatif territory yaitu minus 3,1 persen,” jelas Sri. (ATN)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU