Bayi yang Ditelantarkan Rumah Sakit Hingga Meninggal Ternyata Baru PDP

1,065
Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Buteng saat menggelar konferensi pers di Sekretariat kantor BNPB Buteng. Foto: Istimewa.

BUTON TENGAH, LENTERASULTRA.COM – Bayi usia tiga bulan asal Desa Matara Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah (Buteng) meninggal dunia di RSUD Buteng tanggal 7/4/2020 kemarin. Ia tidak mendapat penanganan setelah masuk di UGD karena diduga terpapar Covid-19.

Menanaggapi hal ini, Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kabupaten Buteng, dr. Karyadi pun langsung angkat bicara. Rupanya pasien ini belum masuk gejala Covid-19, namun masuk dalam kategori Pasien Dalam Pemantauan (PDP).

Dokter Karyadi menjelaskan, berdasarkan hasil diagnosa dokter yang menangani dan memeriksa pasien bayi tersebut dirujuk degan diagnosa penurunan kesadaran atau causa ensefalopati. Berdasarkan surat rujukan dari pihak Puskesmas Mawasangka, ia menderita pneumonia berat yakni kondisi di mana seseorang mengalami infeksi yang terjadi pada kantung-kantung udara dalam paru-paru, tanpa sebab yang spesifik sehingga masuk dalam gejala PDP.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, pada pasien ditemukan gejala demam negatif, batuk negatif, dan sesak positif. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan pasien saat diperiksa kesadarannya menurun dengan glasgow coma scale (GCS) 3. Sedangkan untuk normalnya GCS tersebut 15. Kemudian, pada pemeriksaan bagian kepala, didapatkan diagnosis positif (kepala membiru) dan pucat.

Selanjutnya pada pemeriksaan bagian dalam didapatkan bunyi pernapasan vesikuler. Bunyi tambahan yang didapatkan melalui pemeriksaan stetoskop yakni Ronkhi basah halus di seluruh lapangan paru.

“kalau orang normal tidak ada bunyi tambahan, jadi kesimpulannya, diagnosa sementara bahwa pasien ini merupakan peneumonia berat dan masuk kategori Pasien Dalam Pemantauan (PDP) belum mengarah ke Covid-19,” jelas saat menggelar konferensi pers di Sekretariat Gugus Tugas Pencegahan Covid-19  Buteng, Rabu (8/4/2020).

Namun sebelum itu, menurutnya pihak RSUD telah melakukan langkah-langakah penanganan pasien sesuai SOP penanganan penyakit menular, yakni dilakukan screening awal, kemudian dilakukan pemeriksaan anamnesa terjaga atau tanya jawab kepada kedua orang tuanya.

Selanjutnya, dilakukan tindakan pemasangan infus, meskipun tidak berhasil karena sudah dihidrasi berat, sehingga dilakukan nasogastrik tube (NGT) yakni dengan memasukan selang melalui lubang hidung untuk pemberian cairan, dan Kemudian dipasang saturasi oksigen 50 persen.

“Jadi kalau istilah tidak ditangani itu kurang tepat, karena pihak RSUD sudah melakukan penangannya sesuai SOP penyakit menular dan sudah seperti itu,” timpalnya.

Setelah mendapat diagnosa yang ciri-ciri penyakitnya mengarah ke PDP dan ditambah lagi dengan keterangan orang tua bayi yang tidak sesuai dengan informasi yang didapat dari petugas setempat, maka petugas RSUD tidak berani melakukan pemeriksaan lanjutan dan menghindari kontak langsung dengan pasien. Hal ini dikarenakan pihak RSUD belum memiliki APD yang sesuai standar medis yang telah disepakati.

 

“Dan sekarang semua petugas yang menagani pasien tersebut kami sudah isolasi mandiri selama 14 hari, begitu pula dengan dengan kedua orang tua si anak, kami sudah rapatkan dengan aparat desa agar dikarantina juga selama 14 hari,” pungkasnya. (P3/B)

 

Editor: Wulan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU