Residivis dari Kabaena Dibantai Ayah Tirinya

893
Petugas kepolisian Mapolsek Kabaena saat melakukan evakuasi atas jenazah Hilda, yang tewas dibantai ayah tirinya tengah malam tadi

LENTERASULTRA.com-Tedubara geger Rabu (25/4) dinihari. Saat semua warga di desa kecil di Pulau Kabaena, Bombana itu sedang lelap tidur, histeria mendadak terdengar dari sudut kampung. Seorang lelaki bernama Darmawi yang sudah lama bersabar dengan kelakuan anak tirinya, akhirnya kalap. Ia tanpa berbelaskasihan membantai lelaki bernama Hilda Gustianto, hingga terkapar tak bernyawa dengan leher nyaris putus.

Seketika kampung itu “bangun” di tengah malam. Orang-orang berkerumun melihat peristiwa tersebut. Darmawi yang tahu soal hukum, usai membunuh anak tirinya itu langsung ke rumah salah seorang tokoh masyarakat bernama Abdul Syukur. “Tangkiaku Polsek (bawa saya ke Polsek-red),” pinta Darmawi, yang segera dituruti sang tokoh.

Darmawi memang sudah melanggar hukum karena tega melakukan aksi pembunuhan secara keji. Tapi lelaki berusia 48 tahun itu punya alasan yang ia rasionalkan sendiri. Ia sudah lama kesal dengan ulah sang anak tiri yang kerap memukuli adik tirinya, yang tak lain adalah anak Darmawi, termasuk kerap mengancam sang ibu.

Nah, Selasa (24/4) tengah malam, saat lelaki yang bekerja sebagai petani ini menonton televisi di rumah tetangganya, mendadak anaknya datang. Dengan bersungut-sungut, ia melapor ke ayahnya kalau Hilda mengamuk lagi di rumah dan baru saja memukulinya. Ia meminta ayahnya turun tangan.

Mendengar laporan itu, kekesalan Darmawi benar-benar sudah tak bisa lagi ia tahan. Begitu tiba di rumah, ia memanggil Hilda dengan suara lantang. “Kolaloko to’u Hilda (terlalu kamu Hilda-red),” teriak Darmawi. Dengan amarah di ubun-ubun, ia turun ke kolong rumah dan mencabut sebilah parang dari sarungnya yang memang biasa digantung masyarakat Kabaena di tiang rumah, atau diletakan di balai-balai di kolong rumah.

Hilda juga ikut turun dari rumah. Tapi ternyata maut sudah mengintainya. Ayah tirinya langsung menyerangnya dengan parang yang memang selalu tajam karena dibawa ke kebun. Serangan itu berulang kali dan mengenai pada bagian punggung dan leher korban sehingga lelaki berusia 30 tahun itu jatuh ke tanah.

“Setelah jatuh, ke tanah pelaku langsung menggorok leher korban sehingga korban meninggal dunia di TKP,” kata AKBP Harry Goldenhardt dalam rilisnya yang diterima lenterasultra.com, beberapa saat lalu. Kata Kabid Humas, usai pelaku menggorok leher anak tirinya yang juga seorang residivis itu, Darmawi segera meminta diantar ke Polsek guna menyerahkan diri.

“Pemeriksaan sementara, pelaku membunuh karena kelakuan korban yang suka marah-marah dan sering memukul adiknya,” tandas pengganti AKBP Sunarto ini. Katanya, polisi sudah melakukan olah TKP dan mengamankan barang bukti berupa sebilah parang, baju korban dan baju tersangka.(onno)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU