Anak-anak Muda Pemimpin Partai di Bombana

Kontestasi politik di Wonua Bombana tahun-tahun mendatang, apapun momentumnya pasti akan sangat menarik. Saat ini, setidaknya ada tiga partai politik yang menyerahkan urusan krusial itu di tangan anak-anak muda, didaulat jadi ketua. Ada Partai Bulan Bintang, Partai NasDem dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Publik bakal melihat, siapa anak muda yang pandai meracik komposisi pemenangan. Usia tiga ketua parpol itu masih dibawah 40 tahun. Tapi beban politiknya tentu tak main-main.
Catatan : Abdi Mahatma
Empat bulan silam, tepatnya 27 Juli 2025, seorang anak muda dari Bombana bernama Yudi Utama Arsyad diserahi mandat politik yang tak main-main oleh partainya. Politisi yang akronim namanya, YUA kerap dijadikan panggilan, diserahi urusan memimpin Partai Bulan Bintang (PBB) di Kabupaten Bombana dalam sebuah musyawarah partai. Usianya saat didaulat memegang jabatan tersebut, baru 31 tahun.
Partai ini punya cukup kader, tapi mereka menunjuk YUA sebagai nakhoda, yang berkewajiban mengantarkan perahu PBB berlayar kuat di tiap moment pemilihan. “Saya tidak bisa menolak, apalagi memilih karena ini amanah. Kalau saya bilang terpaksa juga, tidak salah karena memang posisinya saya meneruskan kepemimpinan sebelumnya,” cerita YUA saat dihubungi lenterasultra.com, Kamis (27/11).
Harusnya, PBB masih dikomondai Hasanuddin. Tapi Ketua Umum PBB Bombana itu wafat karena sakit usai berjuang mengantarkan pasangan Burhanuddin-Ahmad Yani terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bombana. PBB adalah partai pendukung utama pasangan ini. Di DPRD, mereka punya dua kursi tapi jika dipersentasi melebihi 10 persen suara hasil Pemilu 2024. Salah satu diantara yang terpilih itu adalah Yudi Utama Arsyad.
“Kondisinya memang memaksa saya harus menerima keputusan partai ini, siap tidak siap. Tapi bagi saya, ini bukan beban karena iklim politik sudah saya kenal sejak mahasiswa. Jadi, dijalani saja,” kata Yudi. Sebagai anak muda, ia malah tidak terbebani dengan situasi tersebut, justru jadi kekuatan bagi partainya jika ia dan kepengurusannya yang dominan anak-anak muda menjalankan semua urusan kepartaian.
Tanpa bermaksud menegasikan politisi senior, menurut Yudi, ada keuntungan dirinya sebagai anak muda yakni gesit dalam bertindak dan cepat bergerak. Apalagi dimasa mendatang, pemilih sudah dominan anak-anak muda, maka penting bagi partai menyiapkan kepemimpinan yang setara agar tidak ada kecanggungan komunikasi. Apalagi ia didukung penuh dengan mantan Ketua PBB Sultra, Ruksamin dan Ketua PBB saat ini, Ikbar.
“Kami juga masih punya Pak Yusril (Yusril Ihza Mahendra) sebagai mentor kami yang masih terus memantau aktifitas PBB di seluruh Indonesia. Jadi, saya merasa tidak sendiri mengurusi partai ini,” tukasnya. Menurut Yudi, kehadiran ketua-ketua partai di Bombana yang usianya masih muda, adalah sebuah kemajuan demokrasi karena berarti anak muda sudah dipercaya memimpin sebuah organisasi yang kompleks seperti partai politik.
Yudi yakin, partai politik lain di Bombana, baik yang dipimpin anak muda maupun politisi senior, tujuannya sama yakni mencita-citakan kesejahteraan rakyat lewat jalur politik. Jadi, siapapun nanti kawan bertanding PBB di masa mendatang, ia percaya semua karena ingin Bombana lebih baik hanya dengan cara dan perahu berbeda.
Selain Yudi, ada lagi anak muda yang juga mendadak membetot perhatian publik. Namanya, Muhammad Sulfan Sultani. Tanpa gembar-gembor sebelumnya, apalagi melalui proses seleksi internal seperti musyawarah di sebuah hotel, tiba-tiba anak muda itu diserahi Surat Keputusan (SK) dari DPP Partai NasDem, untuk menjadi Ketua DPC NasDem Bombana, menggantikan Arsyad.
Tak ada informasi resmi berapa usia Sulfan saat didaulat jadi Ketua NasDem Bombana. Tapi diyakini ia masih dibawah 30 tahunan. Amanah untuk mengurusi partai besutan Surya Paloh diterimanya tanggal 28 Oktober lalu, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Itu berarti, sudah sebulan ia menjadi pimpinan partai dengan tagline restorasi Indonesia tersebut. Sayangnya, lenterasultra.com, belum mendapatkan akses untuk bisa menghubungi anak muda ini guna mendengar gagasannya tentang politik.
Satu hal yang pasti, Sulfan adalah putra Burhanuddin, Bupati Bombana saat ini. Dengan berada di lingkar kekuasaan, Sulfan diyakini memiliki “privilege” untuk bisa mengakses kekuatan-kekuatan politik di Bombana, untuk terus membesarkan NasDem. Spekulasi di publik menyebutkan bahwa dengan memegang partai politik, maka Burhanuddin tidak lagi kesulitan mencari dukungan parpol untuk kontestasi Pilkada, untuk periode berikut.
Saat ini, Partai NasDem Bombana punya empat kursi di DPRD. Ia adalah pemenang ketiga saat Pemilu lokal, 2024 lalu. Sedangkan lima tahun sebelumnya, atau 2019, NasDem tampil sebagai pemenang dengan meraih 5 kursi dan berhak atas kursi Ketua DPRD. Situasi ini bisa saja bisa jadi beban politik bagi sosok anak muda seperti Sulfan, yang bahkan belum pernah ada di pusaran politik praktis.
Dua pekan setelah diserahi tanggungjawab sebagai Ketua NasDem Bombana, Sulfan Sultani sudah tampil di depan publik. Saat ulang tahun Partai Nasdem, 11 November lalu, ia bersama pengurus NasDem Bombana membagi Sembako terhadap masyarakat di daerah itu. Di depan banyak orang, Sulfan bilang aksi itu sebagai bentuk kehadiran partainya di tengah masyarakat.
Teranyar, ada Partai Indonesia Demokrasi (PDI) Perjuangan, yang baru saja memilih seorang anak muda dengan deretan panjang pengalaman politik sebagai ketua. Namanya, Andi Muhammad Khaekal. Tiga hari lalu, tepatnya 24 November 2025, ia ditugasi menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Bombana, sampai tahun 2030 nanti. Ada politisi senior, Johan Salim tandemnya sebagai Sekretaris.
Politik, bagi Khaekal bukanlah sesuatu yang baru. Saat usianya belum genap 22 tahun, ia sudah terpilih menjadi anggota DPRD Bombana di periode 2009-2014. Saat itu, sang ayah bernama Atikurrahman menjabat sebagai Bupati Bombana. Khaekal muda, dicalonkan oleh Partai Patriot. Setelah menyelesaikan masa jabatannya, Khaekal seperti menghilang dan vakum di dunia politik. Apalagi Partai Patriot, tak lagi ikut Pemilu di tahun 2014.
10 tahun berlalu, Khaekal kembali. Ia lalu mengajukan diri menjadi calon anggota DPRD Bombana periode 2024-2029 dari Dapil 1 Bombana lewat PDI Perjuangan. Khaekal yang berstatus sebagai “pendatang baru” sukses meraih banyak suara, bahkan membuat partainya jadi pemenang di Dapil ini dan berhak atas dua kursi. Anak muda tersebut kian terlihat matang, menjalani aktifitas politik.
Ia bahkan sempat berniat mengambil jalan politik yang lebih terjal yakni mengajukan diri sebagai kandidat kepala daerah. Tapi setelah mempertimbangkan berbagai hal, ia memilih menunda niat tersebut dan fokus mengurusi amanah sebagai wakil rakyat. “Saya tidak mungkin berani menerima amanah memimpin PDI Perjuangan Bombana jika belum siap,” kata Khaekal.
Saat ini usia Khaekal baru 38 tahun. Tapi beban politiknya tak ringan. Tugasnya, menjadikan PDIP sebagai partai besar di Bombana dan memenangkan Pemilu. Saat ini, ada 4 kursi milik PDIP yang diperoleh saat Pemilu 2024. “Target saya, minimal setiap Dapil nanti terisi dan bila memang seluruh kader bekerja, tidak mustahil kami bisa menang dan jadi Ketua DPRD,” tandas Khaekal.
Bagaimana dengan partai lain? Apakah bakal ikut menyerahkan tampuk kepemimpinan mereka kepada anak-anak muda? PKB misalnya, sebagai pemenang Pemilu di Bombana, agaknya sulit jika kepemimpinannya berpindah dari Iskandar. Ketua DPRD Bombana ini, meski usianya sudah 48 tahun, tapi ia dianggap sukses mengantarkan partai itu dari sebelumnya hanya punya 3 kursi, naik jadi 4 saat Pemilu. Nyaris belum ada yang setara dengannya di intenal partainya.
Sedangkan Gerindra, yang saat ini dipimpin Andi Wawan Idris bisa mendongkrak perolehann kursinya. Jika di Pemilu 2019 hanya berhasil mendapatkan dua kursi, maka di Pemilu 2024 sukses bertambah jadi 4 kursi. Salah satu anak muda potensial yang bisa didorong untuk naik panggung adalah Ahmad Sutejo, seorang anggota DPRD yang usianya juga belum 30 tahun. Sedangkan tiga legislator lainnya, secara usia sudah diatas 40 tahun.
Partai Amanat Nasional (PAN) juga sangat mungkin melahirkan pemimpin baru. Saat ini kendali partai masih di tangan H Tafdil, mantan Bupati Bombana. Sudah lebih 10 tahun ia memimpin partai matahari terbit itu, dan saat ini kekuasaan tak lagi di tangannya. Ada banyak kader muda di partai ini yang berpeluang jadi pemimpin. Salah satunya, vokalis partai bernama Justang. Usianya masih dibawah 40, dan kini jadi anggota DPRD Bombana.
Sementara Golkar, yang saat ini diketuai Heryanto juga belum menggelar hajatan pergantian ketua. Sayangnya, partai ini gagal melahirkan kader-kader muda di parlemen dan berpotensi jadi pimpinan partai. Dua kursi yang dimilikinya, diisi dua politisi senior. Sedangkan Heryanto sendiri, meski punya jejak panjang politik, ia sudah hampir berusia 50 tahun.
Sebagai pembanding, Ketua DPD Golkar Sultra, La Ode Darwin saat ini baru berusia 40 tahun dan jadi yang termuda se Indonesia. Nah, apakah Golkar di Bombana juga menyiapkan pemimpin muda atau nyaman dengan kepemimpinan sekarang, partai itu akan menjawabnya sendiri jika telah menggelar Musyawarah Daerah, yang mungkin digelar Desember nanti. Semua punya strategi masing-masing, demi menang Pemilu.(*)
