Ditopang Bank Jatim, Bank Sultra Makin Sehat

32

 

Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar memaparkan kondisi dan capaian kinerja keuangan Bank Sultra dihadapan puluhan jurnalis di Sultra, di Tower Bank Sultra, Jumat (21/11). FOTO : FB BANK SULTRA

 

KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Kinerja keuangan Bank Sultra hingga menjelang akhir tahun 2025 menunjukan tren positif dan sangat sehat. Indikatornya, laba Bank Sultra hingga triwulan III 2025 telah mencapai Rp262 miliar, dan hampir dipastikan bertambah di akhir tahun nanti. Kondisi itu salah satunya dipengaruhi adanya suntikan pernyertaan modal dari Bank Jawa Timur, dalam bentuk Kelompok Usaha Bank (KUB).

Capaian kinerja keuangan Bank Sultra itu dipaparkan Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar di depan puluhan jurnalis dalam acara Media Gathering 2025 yang digelar di Tower Bank Sultra, Jumat (21/11/2025). Di kesempatan itu, Andri menjelaskan detail terkait kerja sama Bank Sultra dan Bank Jatim dengan skema KUB. “Betul, Bank Jatim saat ini memiliki saham di Bank Sultra, tapi tidak mayoritas,” terang Andri.

Bankir yang banyak menghabiskan kariernya di Bank Mandiri ini menjelaskan ihwal kerja sama itu bermula dari adanya aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan bank memiliki modal inti sebesar Rp3 Triliun. Sedangkan Bank Sultra, sehingga 2023, hanya memiliki modal sebesar Rp1,9 T atau kurang Rp1,1 T OJK lantas memberikan deadline kepada Bank Sultra untuk memenuhi ketentuan tersebut, hingga akhir 2024.

“Kalau tidak (memenuhi ketentuan modal), maka kami terancam terdegradasi jadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Awalnya, memang ini meresahkan kami, apalagi ada deadline, mau cari dimana selisihnya,” papar Andri. Kondisi itu membuat Bank Sultra harus berdiskusi dengan para pemegang saham dalam hal ini pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Sayangnya, tak ada yang bersedia menambal kekurangan itu.

Dalam kondisi rumit itu, OJK lalu menyarankan agar Bank Sultra ikut KUB tanpa perlu mencukupkan modal sampai Rp3 T. Caranya, gandeng bank yang sudah settle alias kuat secara modal, agar menyertakan modalnya. “Solusi ini yang kami pilih. Penjajakan kerja sama dilakukan ke Bank DKI, Bank Jabar Banten (BJB) dan Bank Jatim, yang kami anggap modalnya sudah kuat,” tambah magister akuntansi jebolan UGM ini.

Related Posts

ASR : Berkarya Dulu Baru Bicara

Selama 2025, 39 Kilogram Sabu Masuk Sultra

Nah, dari tiga bank itulah dipilih Bank Jatim karena skema kerja samanya tidak akuisisi, tapi cukup penyertaan saham yang bila nanti Bank Sultra sudah kuat, maka bisa membeli kembali saham tersebut. Kesepakatan pun dibuat, dan Bank Jatim menyetorkan modal Rp100 M, dalam bentuk saham seri C. Itu juga dipresentasi hanya 3,2 persen sahamnya atau masih lebih kecil dari saham beberapa daerah di Sultra.

“Tapi Bank Jatim dianggap sudah menopang Bank Sultra, sudah terkait secara permodalan. Makanya, kami tidak perlu memenuhi lagi tuntutan Rp1,1 T tadi. Misalnya kalau ada pertanyaan, kan belum cukup Rp3 T? Jawabanya, ya karena kami sudah jadi bagain dari Bank Jatim yang modalnya besar, dan asetnya sudah mencapai Rp114 Triliun,” jelas Andri.

Puluhan jurnalis di Sultra berfoto bersama usai acara media gathering dengan Bank Sultra, Jumat (21/11). FOTO :BANK SULTRA

 

Ia memastikan, tidak ada skema akuisisi dalam kerja sama ini karena memang sejak awal, Bank Sultra tak sepakat dengan konsep itu karena risikonya semua bisnis dikendalikan. Bank Jatim pun memberikan kesempatan, jika kelak Bank Sultra sudah mandiri dan punya modal inti yang cukup, disilahkan membeli kembali saham. Ini, kata Andri, adalah kerja sama yang saling menguntungkan.

Kerja sama ini sudah disepakati lama dan sudah disampaikan di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Desember 2024 lalu. Hanya memang baru terpublikasi luas setelah kehadiran misi dagang Jatim di Sultra yang dipimpin Gubernur, Khofifah Indra Parawansa. Salah satu yang dipaparkan adalah KUB antara Bank Sultra dan Bank Jatim.

Selain soal KUB, Andri juga menjelaskan terkait kinerja Bank Sultra hingga kuartal ketiga, atau September 2025. Katanya, kondisi keuangan Bank Sultra tetap tumbuh sehat meski menghadapi dinamika pasar. Posisi aset hingga September 2025 tercatat sebesar Rp13,5 triliun. Meski mengalami penurunan sekitar Rp600 miliar dibanding akhir 2024, pihaknya optimistis mampu kembali melampaui capaian tahun sebelumnya pada penutupan Desember.

“Kami masih punya waktu tiga bulan. Insyaallah total aset bisa berada di atas posisi Desember 2024. Kredit yang disalurkan hingga September mencapai Rp9,4 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp10,7 triliun. Ini menunjukkan pertumbuhan tetap terkendali dan sehat,” jelasnya.(red)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU