Mengenal As Syifa, Hafidzah 20 Juz Asal Sultra Juara STQH Nasional

KENDARI, LENTERASULTRA-Pondok Pesantren Al Hudzaifiyyah di Kabupaten Kolaka bolehlah berbangga hati. Seorang santrinya bernama As Syifa Insani Kamila baru saja membuat harum nama Sulawesi Tenggara (Sultra) di panggung Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist (STQH) Nasional. Ia menjuarai lomba hafalan Al Qur’an 20 Juz. Subhanallah..!
RONY FEBRYAN
Usianya baru 17 tahun. Ia bahkan belum menyelesaikan pendidikan setara SMA, karena masih duduk di bangku kelas XII. Sehari-hari ia mondok di Ponpes Al Hudzaifiyyah di Kabupaten Kolaka. Tapi ia dianugerahi kemampuan luar biasa. Di usianya yang masih belia, gadis dengan senyum manis ini sudah bisa menghapal Al Qur’an dengan fasih. 20 Juz, diluar kepalanya.
Iya, As Syifa seorang Hafidzah. Di Sultra, tak ada perempuan yang bisa menandingi kemampuannya. Ia yang terbaik di Bumi Anoa. As Syifa pernah bertanding di level kabupaten, tapi semua berhasil ia singkirkan. Hapalannya fasih dengan tajwid yang presisi. Ia lalu berhadapan dengan semua Hafidzah terbaik dari kabupaten lain di Sultra, tapi tetap saja. Ia jawaranya.
Moment untuk naik level pun tiba saat Sultra menjadi tuan rumah STQH ke 28. As Syifa berkesempatan berlomba dengan para Hafidzah terbaik se tanah air. Tapi, remaja putri ini memang punya talenta luar biasa. Di final, ia hanya bisa diungguli santriwati asal Jawa Timur bernama Fehima Najaha Asy Syarifah. Merekalah yang berhak atas juara satu dan juara dua.
Kebanggaan itulah yang terpancar dari wajah As Syifa, Sabtu (18/10) malam seusai pengumuman jawara dan gadis ini ditahbiskan sebagai pemenang kedua. Bayangkan saja, dari 37 provinsi yang ikut ambil bagian, As Syifa jadi runner up. Ia berhak atas sebuah trophy dan uang pembinaan jutaan rupiah. “Saya sangat senang dan bangga mengantar daerah saya jadi juara,” kata As Syifa Insani Kamila, saat ditemui lenterasultra.com.
As Syifa mengaku bahwa pencapaiannya itu tidak diraih dengan mudah. Usai ia ditetapkan sebagai pemenang di level provinsi dan dipilih mewakili Sultra di tingkat nasional, gadis ini menghabiskan delapan bulan terakhirnya dengan mengasah kemampuannya. Ia menjalani latihan intensif tanpa henti dibawah asuhan pembinanya di Pondok.
“Setelah menang di tingkat provinsi, saya tidak pernah berhenti murojaah. Setiap hari saya mengulang hafalan supaya tidak ada yang tertinggal,” tuturnya saat ditemui usai pengumuman hasil lomba. Selama berlomba, ia mengaku kerap dihantui rasa gugup apalagi lawan-lawannya semua adalah yang terbaik dari daerah masing-masing.
Tapi As Shyifa yakin Allah akan menolongnya. Ia merawat semangatnya, memelihara keyakinannya bahwa ia bisa mengatasi semua rasa gugup itu dan memberikan yang terbaik untuk Sultra. Ia mengungkapkan bahwa rahasia terbesar di balik keberhasilannya adalah konsistensi berdoa.
“Saya juga rutin membaca Surah Al-Kahfi setiap hari, sebuah amalan yang telah menjadi pesan dari orang tuanya sejak awal. Ini modal utama saya,” katanya dengan mata berbinar bahagia. Ia meyakini, doa orang tuanyalah yang menembus Arsy, merayu Tuhan hingga memberikan rasa percaya diri dan kemampuan hapalan yang luar biasa.
Selain usaha pribadi, Syifa juga mengaku tidak akan sampai pada tahap ini tanpa peran sosok penting di balik layar. Ia adalah Ustad Baharuddin, pelatih yang selama ini mendampinginya. Ia menyebut sang pelatih sebagai sosok yang sabar dan selalu memberi dorongan agar dirinya tetap fokus. “Banyak pelatih yang pernah membimbing, tapi Ustad Baharuddin adalah yang paling sabar dan tidak pernah berhenti memberi semangat. Beliau yang paling berpengaruh bagi saya,” kata Syifa penuh haru.
Ditemui terpisah, Ustad Baharuddin mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas prestasi anak didiknya itu. Menurutnya, Syifa adalah santri yang memiliki disiplin tinggi dan semangat murojaah luar biasa. “Dia termasuk anak yang sangat gigih. Setiap kali latihan, tidak pernah datang tanpa persiapan. Kedisiplinannya ini yang membedakan dari peserta lain,” tutur Baharuddin.
Ia menambahkan, prestasi tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Sulawesi Tenggara agar semakin mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup. “Semoga kemenangan ini tidak berhenti di panggung STQH saja, tapi terus berlanjut menjadi semangat dakwah dan pembinaan generasi Qur’ani,” harapnya.
Dalam kategori yang sama, Golongan Hafalan 20 Juz, perwakilan putra asal Sultra juga turut menorehkan prestasi. Muh. Hijir Ismail berhasil meraih Juara Harapan III, melengkapi kebanggaan provinsi di ajang tingkat nasional tahun ini.(*/A)
