Pembukaan STQH Megah, 300 Penari Kolosal Tampil Memukau

41
STQH Nasional di Kendari resmi dibuka, Sabtu malam lalu yang ditandai dengan pemukulan Dimba secara bersama oleh Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka (kanan), Menko PMK, Pratikno (kedua dari kanan), Menag, Nasaruddin Umar (kedua dari kiri) dan Dirjen BIma Islam, Abu Rochmad (paling kiri). FOTO :PPID Pemprov Sultra

 

KENDARI, LENTERASULTRA.COM—Pemprov Sultra benar-benar total mempersiapkan gelaran Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist (STQH) ke 28 di Kota Kendari. Tetamu dibuat kagum atas segala kemeriahan yang ditampilan tuan rumah. Jika siang hari, ada parade kendaraan hias bertema religi, maka di malam hari ada penampilan ratusan penari kolosal, sebagai bagian dari pembukaan STQH.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Praktikno bersama Menteri Agama, Nasaruddin Umar serta gubernur dan wakil gubernur se Indonesia yang ikut hadir saat pembukaan yang dipusatkan di alun-alun eks MTQ, dibuat berdecak kagum oleh penampilan para penari. Di bawah cahaya lampu yang berkilau dan sorak penonton yang memenuhi setiap sisi arena, tetarian itu sungguh memesona.

Tarian kolosal itu bertajuk “Sila Islam di Buton”. Tarian tersebut menjadi pembuka yang memikat, menggambarkan kisah awal masuknya Islam di tanah Buton. Dengan kostum bernuansa tradisi daerah, para penari tampil anggun mengenakan tenun Buton yang sarat makna. Motif garis-garis vertikal pada kain melambangkan hubungan manusia dengan Tuhannya, sedangkan garis horizontal menggambarkan hubungan antarsesama manusia walaupun pesan sederhana namun mendalam yang menjadi roh pertunjukan malam itu.

Akbar Tanjung, pelatih tari yang memimpin persiapan pertunjukan ini, para penari berasal dari berbagai latar pendidikan seperti siswa SMA, SMK, Madrasah Tsanawiyah, hingga anak-anak sanggar seni yang masih duduk di bangku SMP. “Total ada 300 penari, terdiri dari 275 perempuan dan 25 laki-laki. Mereka latihan intens selama 20 hari, cukup cepat dan padat karena dikejar waktu,” ujar Akbar.

Busana yang digunakan juga tak kalah menarik. Model busana yang digunakan terinspirasi dari baju Buton Kaboroko, dengan empat warna dominan yakni kuning emas melambangkan kebangsawanan, hijau simbol kesuburan, putih mewakili kesucian, dan cokelat yang menandakan keteguhan serta kedekatan dengan tanah kelahiran.

Tak hanya kostum, topi yang dikenakan para penari juga memiliki makna mendalam. Bentuknya menyerupai miniatur kubah masjid, dihiasi tanda tambah dan segi empat yang merepresentasikan empat pilar utama Sulawesi Tenggara, simbol nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat daerah ini.

Meski proses latihan diwarnai berbagai tantangan, seperti mulai dari jadwal sekolah yang padat hingga kesulitan menyatukan jadwal antar siswa. Semangat para peserta dan dukungan guru-guru di sekolah membuat semua berjalan lancar. “Guru-guru sangat mendukung, bahkan ikut menekan siswa agar disiplin latihan. Dan hasilnya benar-benar memuaskan. Penampilan mereka semalam 100 persen maksimal, tanpa kesalahan berarti,” kata Akbar dengan bangga.

Related Posts

ASR : Berkarya Dulu Baru Bicara

Selama 2025, 39 Kilogram Sabu Masuk Sultra

Pementasan tarian kolosal “Sila Islam di Buton” menjadi salah satu momen paling berkesan di malam pembukaan STQH 2025. Kombinasi antara nilai religius, budaya lokal, dan semangat generasi muda menjadikannya bukan sekadar hiburan, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap sejarah Islam di Buton dan warisan luhur masyarakat Sulawesi Tenggara.

Penampilan ratusan penari menjadi atraksi menarik yang dipentaskan dalam kegiatan pembukaan STQH Nasional, Sabtu malam lalu. FOTO :RONI

 

Dibuka Menko PMK

STQH Nasional ke 28 secara resmi dibuka Sabtu (11/10/2025) malam Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Republik Indonesia, Pratikno, mewakili Presiden RI, Pratikno. Ia didampingi Menag, Nasaruddin Umar, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad, dan Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan Dimba —alat musik tradisional khas Sulawesi Tenggara—oleh Menko PMK. Pratikno sendiri menyampaikan kebanggannya bisa berdiri di podium STQH di Sultra yang sangat luar biasa. Ia berharap generasi muda mampu menguasai ilmu pengetahuan dan melek teknologi, disamping tetap memegang pondasi akhlakul karimah melalui Qur’an dan Hadis.

“Ilmu pengetahuan tanpa akhlak bagaikan pedang tanpa kendali. Maka jadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai kompas moral dan sebagai benteng yang menjaga kita agar tidak tersesat dalam kemajuan peradaban,” katanya. Menko Pratikno juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap Gubernur Sultra dan jajaran forkopimda yang telah bekerja keras dalam mempersiapkan STQH.

Sementara itu, Gubernur Andi Sumangerukka menyampaikan kebanggannya kebanggaan atas kepercayaan yang diberikan kepada daerah yang ia pimpin sebagai tuan rumah STQH Nasional 2025. ASR menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan membaca dan menghafal Al-Qur’an dan Hadis, tetapi merupakan wadah memperkokoh nilai-nilai keislaman, memperkuat ukhuwah, serta menjalin persaudaraan antarumat.

Pada kesempatan ini, Gubernur juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah pusat, panitia nasional dan daerah, pemerintah kabupaten/kota, aparat keamanan, serta seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara yang telah berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan tersebut.(*/A)

 

Penulis : Roni/Fadhilah

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU