Klinik Mata Hadir di Kota Kendari, jadi Rujukan Warga Sultra dan Provinsi Tetangga

244
Inilah salah satu pusat pelayanan kesehatan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Namanya Klinik Mata Kendari (KMK). Terletak di jalan Buburanda, Kelurahan Korumba, Kota Kendari. KMK menjadi rumah sakit khusus mata yang menjadi pilihan dan rujukan warga Sultra dan Provinsi tetangga. Setiap hari KMK dipadati  seratusan pasien yang berobat. Foto : Adhi

 

KENDARI, LENTERASULTRA.COM-  Satu lagi rumah sakit beroperasi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Namanya, Klinik Mata Kendari (KMK). Sesuai namanya, sarana kesehatan ini hanya fokus memberikan layanan pemeriksaan mata.

Sejak hadir di Kota Lulo, pusat pelayanan kesehatan mata yang terletak di Jalan Buburanda, Kelurahan Korumba, Kota Kendari itu, tidak hanya menjadi rujukan masyarakat Bumi Anoa. Penduduk dari luar Sultra, juga menjadikan KMK sebagai pilihan untuk memeriksa berbagai keluhan terkait mata. Mulai dari katarak, glaukoma, penglihatan buram hingga melayani pengukuran kaca mata serta berbagai keluhan penglihatan lainnya.

Tunggurdin, 72 tahun, merupakan salah satu pasien yang menjatuhkan pilihan berobat di KMK. Pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) ini berasal dari
Kelurahan Kontumolepe, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Dia rela menyebrangi lautan demi berobat di KMK. Keluhannya, kedua matanya tidak jelas lagi melihat. “Satu mata saya kalau melihat dia melebar,” katanya

Pensiunan ASN di Kabupaten Muna ini kemudian memeriksakan diri KMK, Rabu, 3 Agustus 2022. Dokter yang memeriksanya saat itu, Melvin Manuel Philips. Hasil pemeriksaannya, pensiunan kepala sekolah dasar di Kecamatan Parigi ini mengalami katarak dan glaukoma. Tekanan bola matanya juga tinggi.

Oleh dokter spesialis mata yang menanganinya saat itu, Tunggurdin diberi obat untuk diminum selama sepekan. Jika ada perubahan tekanan bola mata, diputuskan pembedahan bersamaan dengan waktu obatnya habis diminum. Rabu, 10 Agustus diputuskan operasi. Setelah itu, dilanjutkan perawatan dan konsultasi setiap pekan. “Alhamdulillah, sekarang ada perubahan. Mata saya yang dioperasi sudah melihat. Tidak sama sebelum dioperasi,” katanya.

 

Antrian pasien mata di KMK. Setiap hari, hampir dua ratus orang berobat di pusat pelayanan kesehatan mata di Kota Kendari. Mereka berasal dari berbagai Kabupaten dan Kota di Sultra hingga dari Provinsi tetangga..Foto : Adhi/Lenterasultra.com

 

-IKLAN-

Tunggurdin mengaku, pilihannya berobat di KMK atas saran dari anak-anaknya yang tinggal di Kendari. Salah satu pertimbangan anaknya saat itu, pelayanan di KMK bagus, perlatannya sangat memadai, dokter-dokternya ramah, baik dan semua memiliki kompetensi spesilis mata serta yang paling utama, banyak masyarakat yang sembuh dan normal kembali penglihatannya setelah berobat di KMK.

Gafur juga menjadi salah satu penduduk Sultra yang menjatuhkan pilihan berobat di KMK Kendari. Jauh-jauh dari Torobulu, Kecamatan Laeya Konawe Selatan, Gafur membawa bayinya di KMK. Keluhan anaknya yang masih berusia 11 bulan ini, dibagian bola matanya terdapat warna putih.

“Saya kuatir pak. Saya sudah bawa di salah satu rumah sakit, tapi diminta di rujuk di Makassar. Tapi waktu saya di Puskesmas di Torobulu, ada keluarga yang arahkan di KMK, makanya saya berangkat dari Torobulu jam 4 tadi subuh dan tiba sekitar jam 7. Saya bawa mobil lambat karena hujan,” kata Gafur saat ditemui di KMK, Kamis, 25 Agustus 2022.

Sekitar pukul 09.45 WITA, Gafur terlihat sudah keluar dari ruang poli dokter Melvin. “Sudah selesai. Sudah dikasi obat. Mudah-mudahan tidak apa-apa,” sambungnya. Gafur mengaku, kehadirannya di KMK baru pertama kali. Mulanya dia tidak tahu, jika ada pusat pelayanan kesehatan mata di Kota Kendari. Karena selama ini, dia hanya mendengar beberapa rumah sakit besar milik pemerintah provinsi Sultra dan Kota Kendari. Gafur baru tahu, ada rumah sakit khusus mata di Kota Lulo, setelah salah satu keluarganya yang bekerja di salah satu puskesmas di Konsel bercerita kepadanya.

Ahira, merupakan salah satu penduduk dari luar Sulawesi Tenggara yang berobat di KMK. Dia berasal dari Kepulauan Menui, Sulawesi Tengah. Ahira mengeluhkan penglihatannya yang buram. Ahira sudah beberapa hari konsul di KMK, namun karena tekanan bola matanya masih tinggi, dia belum memenuhi syarat dilakukan pembedahan. Setelah tekanan bola matanya menurun, Ahira baru diputuskan dilakukan pembedahan.

Penulis dan editor : Adhi

 

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU