Gandeng KNPI, Dikbud Sultra Atasi Kelangkaan Minyak Goreng

205
Dari kiri-kanan : Gubernur Sultra Ali Mazi (dua dari kiri), Ketua KNPI Sultra Alvin Akawijaya Putra, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Asrun Lio saat memantau pembuatan minyak goreng tradisional di SMKN 1 Kendari. Foto : Ist

 

KENDARI, LENTERASULTRA.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara ikut berperan mengatasi kelangkaan minyak goreng yang terjadi secara nasional beberapa waktu lalu.

Instansi pimpinan Asrun Lio itu menggandeng Komite Nasional Pemuda Indonesia Sulawesi Tenggara dalam program pembuatan minyak goreng tradisional.

Peran Dikbud Sultra ialah mengorganisir seluruh siswa SMA/SMK untuk membuat minyak goreng tradisional secara serentak di 17 daerah di Sultra pada Sabtu, 4 April 2022 lalu. Tak tanggung-tanggung, program itu berhasil mengumpulkan 12 ribu liter minyak goreng.

Gubernur Sultra Ali Mazi bersama Kadis Dikbud Sultra Asrun Lio melihat hasil pembuatan minyak goreng di SMK 1 Kendari. Foto : Ist

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Asrun Lio mengatakan, minyak goreng itu adalah hasil kreasi para siswa di daerah yang dikoordinir Dikbud dan KNPI. Para siswa membuat sendiri minyak goreng dengan cara tradisional. Mulai dari menyiapkan kelapa, memarut dan memasaknya hingga menjadi minyak.

“Ada sekitar 3.000 tungku di 17 daerah yang digunakan serentak untuk membuat minyak goreng tradional. Estimasinya satu tunggu bisa membuat tiga hingga empat liter,” kata Asrun Lio.

Orang kepercayaan Gubernur Sultra, Ali Mazi itu menyebut, program tersebut merupakan bentuk kontribusi dan upaya siawa dalam mengatasi masalah kelangkaan minyak goreng yang dialami masyarakat Indonesia, tidak terkecuali di Sultra. Selain itu, juga menjadi media pembelajaran kepada siswa agar dapat memanfaatkan potensi lokal menjadi lebih bernilai. Dalam hal ini mengolah kelapa menjadi minyak goreng..

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra Asrun Lio (kiri) bersama Ketua KNPI Sultra Alvin. Foto : Ist

“Kita ingin menggalakan cara pikir cerdas, kolaboratif dan menginspirasi bagi semua masyarakat Sultra,” ujarnya.

Tidak saja untuk mengatasi kelangkaan minyak yang terjadi, inovasi Dikbud Sultra itu memiliki tujuan jangka panjang. Yaitu menciptakan minyak tradional menjadi produk yang bisa lebih bersaing di pasar. Itu juga menjadi cara agar siswa yang merupakan generasi 2000-an tidak lupa pada kearifan lokal masyarakatnya.

“Kedepannya kita harapkan dukungan dari pemerintah misalkan dalam hal bagaimana membuat minyak ini menjadi suatu yang bisa bersaing di pasar. Selain itu, kita ketahui juga kebanyakan anak-anak kita ini tidak lagi merasakan minyak tradisional. Untuk itu program ini kita lakukan,” urainya. (Adv)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU