Karya Tulis Mantik Sangia jadi Karya Terbaik Workshop Ekonomi Kreatif di Kolaka

150
Kepala Dinas Pariwisata Kolaka Zulkarnaen Mansyur berpose bersama dengan peserta worshop Ekonomi Kreatif Sub Sektor Media di Kabupaten Kolaka. Foto : Ist

KOLAKA, LENTERASULTRA.COM – Pelaksanaan Workshop ekonomi kreatif sub sektor media pada sesi pelatihan penulisan konten pariwisata di Kabupaten Kolaka melahirkan satu karya terbaik. Karya itu berjudul Mengenal Kerajaan Mekongga dari Mantik Sangia yang ditulis oleh Zulfikar.

Alasan Zulfikar mengangkat judul tersebut karena Mantik Sangia tenunan khas Kolaka menyimpan cerita tentang terbentuknya Kerajaan Mekongga yang harus diketahui oleh para milenial. “Mantik Sangia ini menarik karena para milenial bisa mengetahui tentang peninggalan peradaban Mekongga, mulai dari pakaiannya, motifnya, dan ini juga bernilai ekonomi. Berdasarkan informasi dari pembuat tenunnya, pasarnya itu sudah sampai luar Sultra. Ketika ada tamu datang ke Kolaka itu, Mantik Sangia ini jadi cenderamata. Ini yang saya anggap menarik dan bernilai jual bagi Kabupaten Kolaka,” ujarnya pada Rabu (8/12/2021).

Tenunan sangia mekongga memiliki nilai jual di masyarakat. Tenunan mekongga yang dirintis oleh Muhammad Aliansi telah berhasil dikembangkan. Dalam penyambutan setiap tamu kehormatan yang datang di Kolaka, kain tenun ini pasti dikalungkan ke tamu tersebut. Bahkan diberikan kepada mereka sebagai kenang kenangan. Ini yang membuat tenunan ini bernilai ekonomi tinggi.

Muhamad Aliansi yang biasa disapa Ali ini ternyata bukan putra asli Kolaka. Ali berasal dari Sengkang, Sulawesi Selatan. Ia datang ke Kolaka sejak tahun 1994. Namun lewat kain tenunnya orang-orang dapat melihat bagaimana corak tikar yang dulu dipakai raja dan pemangku adat Mekongga. Tidak hanya itu, ada juga kain tenun bermotif perisai yang dipakai pasukan kerajaan.

-IKLAN-

Milenial Kolaka saat mengikuti workshop Ekonomi Kreatif Sub Sektor Media di Kabupaten Kolaka. Foto : Ist

Untuk harga, kain tenun Mantik Sangia relatif terjangkau. Untuk sebuah kain tenun sesuai tingkat kerumitan motif yang dibuat, yaitu kisaran Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta perlembarnya. Berbagai macam pakaian Suku Mekongga di bawah naungan Kerajaan Mekongga begitu kaya. Sebut saja Babu Bokeo (Baju Raja), Babu Kapita, Babu Pabitara, Babu Sapati, Babu Mokele, Babu Toonomotuo, Babu Tamalaki, dan Babu Tolea. Baju-baju tersebut yang hingga kini masih dipakai oleh Suku Mekongga dalam setiap proses adat di Kabupaten Kolaka.

Selanjutnya, Ali ingin menginspirasi penenun lainnya yang ada di Kolaka agar lebih kreatif sehingga kain tenun tidak hilang oleh zaman. Ia juga berharap kain tenun ini bisa mendapat tempat di pasaran pada era sekarang ini. (Adv)

Penulis : Mukhtar

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU