Profil Herlin, S.Psi Anggota DPRD Bombana -Kepak Sayap Sang Honorer Cantik-

768
Herlin, S.Psi, anggota DPRD Bombana dari PDIP

Hari masih pagi. Matahari masih terang tanah.  Dua orang lelaki mendatangi rumah seorang pegawai honorer Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bombana bernama Herlin di Kasipute. Dua pria itu bernama Suriadi dan Yunus Masse. Nama yang disebut pertama adalah Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Bombana, sedangkan kawannya adalah tokoh pemuda di daerah itu. Keduanya datang membawa misi penting.

Kepada sang sahibul bait alias tuan rumah, Suriadi dan Yunus Masse datang menyampaikan salam dari Hasrat, Sekretaris PDIP Sultra. Lebih dari itu, keduanya “meminang” Herlin untuk jadi anggota partai sekaligus maju sebagai Caleg DPRD Bombana. Pertemuan di sebuah pagi, di tahun 2017 itulah yang kemudian mengubah jalan hidup perempuan berkulit kuning langsat itu hingga sampai ke fase sekarang.

Ya, Herlin kini sudah menggengam amanah rakyat. Ia adalah salah satu dari 25 anggota DPRD Bombana. PDIP-lah yang membuat sayap honorer berwajah teduh ini mengepak tinggi. Bila dulu kesehariannya mengetik data keuangan daerah, kini justru ia yang mengawasi anggaran itu dipakai untuk apa. Di parlemen, ia jadi salah satu dari tiga srikandinya. Satu lompatan hidup yang luar biasa.

“Harus saya ceritakan ini. PDIP lewat Pak Suriadi dan Pak Yunus Masse yang datang memberi saya kesempatan untuk menjadi seperti sekarang. Saat itu, saya cuma minta, kalaupun saya terima pinangan mereka, tapi prosesnya tidak terlalu ribet. Administrasi syarat calon saya minta dibantu,” kenang Herlin, soal muasal ia bisa sampai ke posisi sekarang.

Lenterasultra.com menemui Herlin di kantornya, Jumat (26/11) lalu. Mengobrol dengan pemilik senyum manis ini benar-benar bikin betah. Ia bertutur dengan lembut, suaranya mengalun menghanyutkan. “Saya ini putri asli Bombana, hanya lahir di Jayapura dan banyak menghabiskan waktu di luar daerah, ikut orang tua yang bekerja,” Herlin mengawali kisah hidupnya.

Herlin S.Psi, anggota DPRD Bombana dari Dapil 1 Bombana

Ia lahir di Jayapura, Papua tahun 1991 silam. Ada gelar sarjana psikologi tersemat di belakang namanya, buah dari pendidikan yang ia tempuh di Universitas Indonesia Timur di Makassar. Herlin jadi penghuni parlemen Bombana diusianya yang relatif masih muda, 28 tahun. Masyarakat di Dapil 1, meliputi Kecamatan Rumbia, Rumbia Tengah, Mataoleo dan Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya memberinya amanah.

Saat Pilcaleg 2019 lalu, ibu dari dua anak  bernama Ayana Latizya Putri (6) dan Atala Raska Faizan (3), meraih 551 suara. Meski minim pengalaman politik, Herlin bisa membuktikan bahwa ia memang pantas menjadi wakil rakyat. “Saya yakin bisa mendapat hasil baik karena restu orang tua dan dukungan keluarga,” tukasnya.

Meski Herlin kini sudah duduk di DPRD Bombana, namun langkah untuk sampai di gedung itu tidak semulus yang dibayangkan. Dia banyak mendapat rintangan. Saat namanya ditetapkan sebagai anggota DPRD Bombana terpilih oleh KPU, kemenangan partainya dipersoalkan oleh partai lain, yang urutan perolehan suaranya satu tingkat di bawah PDIP.

Persoalan itu dilaporkan ke Bawaslu yang kemudian mengeluarkan rekomendasi agar dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di tiga tempat pemungutan suara (TPS) yang ada di Dapil 1, tempat Herlin berjuang. Dua TPS di Mataoleo dan satu di Rumbia. Herlin sempat shock dan khawatir karena suara PDIP hanya terpaut dua suara dengan partai penggugat.

Herlin, S.Psi, anggota DPRD Bombana

“Saya berpikir, ini akan menguras tenaga dan pikiran lagi. Hitungan kami sebelum PSU, PDIP menang, dan bisa dapat satu kursi di Dapil 1. Saya peraih suara terbanyak di internal saat itu. Makanya, pusing juga waktu PSU mau digelar KPU. Was-was tentu saja,” katanya, mengingat kembali peristiwa dua tahun silam tersebut.

Namun kekhawatirannya tidak terbukti, hasil PSU di tiga TPS,  justru membawa keberuntungan buat PDIP karena ada penambahan 20 suara secara kumulatif dan sekaligus menegaskan kemenangan partainya. “Ternyata belum selesai juga. Setelah KPU pleno menetapkan PDIP jadi pemilik kursi di Dapil 1, ada lagi gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK),” kata Herlin.

Begitu gugatan resmi didaftarkan, Herlin harus menyiapkan berbagai bukti jika nanti diperlukan di persidangan. Namun karena takdir sudah menggariskan namanya duduk di DPRD Bombana periode 2019-2024, gugatan yang diajukan di MK ternyata ditolak. Mendengar putusan tersebut, Herlin dan keluarga langsung sujud sukur. “Ibu saya bahkan sampai menangis, setelah mendengar putusan dari MK,” kenangnya.

Herlin bersama ibunya serta dua anaknya

Selain kemenangannya digugat, Herlin juga diperhadapkan dengan cobaan yang maha berat. Saat dia tengah sibuk-sibuknya bersosialisasi menghadapi Pilcaleg, ayahnya, Amin Tamaate dipanggil Tuhan, empat bulan sebelum Pemilu. Laki-laki yang telah mendukungnya menuju DPRD Bombana kena serangan jantung saat Herlin tengah bersosialisasi di Desa Liano Pantai Kecamatan Mataoleo.

“Tanggal 6 Desember 2018, bapak kena serangan jantung. Tanggal 10, bapak meninggal dunia,” cerita Herlin mengingat kepergian ayahnya. Berpulangnya orang yang dicintainya membuat ia nyaris putus asa. Wanita ini bahkan tidak semangat lagi melanjutkan perjuangannya. Namun berkat dorongan ibunya, Hj Harmin, semangat Herlin kembali tumbuh. Usahanya tidak sia-sia, perempuan berhijab yang menempuh pendidikan dengan nomaden ini akhirnya lolos ke DPRD Bombana.

Meski berdarah asli Moronene,  Herlin banyak menghabiskan hidupnya di luar Sulawesi Tenggara. Dia lahir di Jayapura, Papua 29 Mei 1991. Itu karena alamarhun Amin Tamaate, ayahnya merupakan pegawai BUMN di Pelindo Jayapura. Herlin menempuh pendidikan sekolah dasar tahun 1997 di Biak dan menyelesaikan studi di jenjang yang sama di Ternate tahun 2003.

Sementara untuk jenjang menengah pertama, Herlin menuntaskannya di SMPN 1 Ternate, Maluku pada tahun 2006. Seragam putih abu-abu ia gunakan di SMAN 2 Ambon hingga menamatkan pendidikan di tahun 2009. ““Saya sekolah berpindah-pindah karena mengikuti tempat tugas orang tua,” katanya.

Herlin kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Negeri Makassar (UNM). Namun keberadaannya di UNM hanya bertahan empat semester. Herlin memutuskan pindah di Universitas Indonesia Timur dengan mengambil jurusan psikologi tahun 2012. Saat ini, perempuan single parent ini tengah melanjutkan studi strata dua di Universitas Halu Oleo, jurusan manajemen sumber daya manusia.

Herlin, anggota DPRD Bombana

Selama kuliah di Makassar, Herlin sudah menggeluti berbagai profesi. Mulai dari bekerja di salah satu perusahaan asuransi, hingga menjadi karyawan bank swasta di kota Angin Mamiri. Di dua profesi ini, orang tua tunggal dari dua putri bernama Ayana Latizya Putri (6) dan Atala Raska Faizan (3) tidak bertahan lama. Setelah keluar, dia memilih mandiri dengan membuka usaha butik di Makassar.

Herlin pulang kampung di Kasipute, Bombana, kampung halaman orang tuanya, pasca almarhum ayahnya pensiun dari pegawai Pelindo tahun 2013 lalu. Setahun sebelum purna bakti, almarhum ayahnya kemudian membuka usaha perhotelan di Kasipute, Rumbia. Dua tahun usaha orang tuanya berjalan, Herlin ikut pulang kampung bersama kedua orang tuanya. “Saya tiba di Bombana tahun 2015,” katanya.

Wanita tangguh yang pernah menikah di tahun 2014 ini lalu menetap di Bombana. Karena masih muda dan gesit, Herlin menggeluti berbagai kegiatan. Ia diterima menjadi pegawai honorer di Pemkab Bombana. Terhitung mulai 1 Januari 2016, dia tercatat sebagai tenaga honorer di Dispenda setempat, instansi yang kemudian berubah jadi Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah (BPKAD) dan kini menjadi Badan Keuangan Daerah (BKD).

“Saya memutuskan berhenti jadi pegawai honor tahun 2018 saat nama saya sudah tercatat sebagai anggota partai dan juga calon anggota DPRD Bombana,” tukasnya. Kini Herlin sudah dua tahun di DPRD. Beban tugasnya lumayan berat. Selain mengurus masyarakat Bombana terutama konstituennya, dia juga menjadi orang tua tunggal dari dua putrinya.

Herlin berpose bersama dua anaknya

Hal ini diakui Herlin tidaklah berat. Dia bisa membagi waktu antara kepentingan umum dan keluarganya. Sebab, dua pekerjaan ini sama-sama penting dimatanya. Sebelum ke kantor, Herlin biasanya lebih dulu mengurus dua buah hatinya. Mulai dari sarapan pagi hingga menyiapkan pelajaran secara online.

Jika belum tuntas urusannya, dan tempatnya bertugas membutuhkan dirinya, Herlin mempercayakan kepada ibunya, untuk membantu mengurus kedua anaknya. Setelah itu, dia bergegas ke kantor menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai anggota DPRD Bombana.

“Sebagai orang tua tunggal, saya harus memerankan dua peran sekaligus. Selain sebagai ibu, juga ayah bagi kedua anak saya. Apa pun kebutuhan anak-anak saya, akan tetap saya penuhi, apalagi saat ini masih masa-masa pertumbuhan mereka,” katanya.

Setelah dua tahun berlembaga di DPRD Bombana, Herlin menyampaikan terima kasih kepada warga Bombana terutama kepada mereka yang telah memilihnya. Dia berharap, setidaknya hingga tahun 2024 nanti, dia bisa mengawal aspirasi masyarakat Bombana. Melalui tangannya, dia bisa menjadi jembatan kepada eksekutif sebagai pengambil kebijakan.

Selama 24 bulan terakhir, berbagai infrastruktur dan bantuan telah difasilitasi buat kepentingan masyarakat Bombana. Diantaranya, bantuan beda rumah, bantuan alat tangkap  serta berbagai kebutuhan masyarakat lainnya. “Komitmen dan janji saya kepada rakyat Bombana, khususnya di Dapil saya, tetap saya pegang teguh dan bakal terus saya perjuangkan di parlemen,” pungkasnya.(***)

Nama : Herlin, S.Psi

Tempat Tanggal Lahir : Jayapura, 29 Mei 1991

Agama : Islam

Orang tua :

Ayah : Almarhum Amin Tamaate

Ibu : Hj Harmin

Anak :

  1. Ayana Latizya Putri (6)
  2. Atala Raska Faizan (3)

Pendidikan :

SD Ternate 2003

SMPN 1 Ternate 2006

SMAN 2 Ambon 2009

S1 Psikologi Universitas Indonesia Timur 2012

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU