Penjualan Feronikel Antam Tembus Rp4,46 Triliun di 2020

196

Kolaborasi China, Antam Bangun Lima Smelter Senilai Rp102 Triliun

Related Posts

 

JAKARTA, LENTERASULTRA.COM – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2020. Hal ini tidak lepas dari kinerja segmen nikel yang menjadi salah satu komoditas utama perusahaan negara itu. Selain mencatatkan laba bersih Rp1,15 triliun, di tahun 2020 Antam juga mencatatkan capaian volume produksi feronikel tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Sekretaris Perusahaan Antam Kunto Hendrapawoko mengatakan, meskipun sejak akhir 2019 kebijakan ekspor bijih nikel sudah dihapuskan pemerintah, hal tersebut tidak mempengaruhi pencatatan positif Antam di segmen nikel.

“Tahun 2020 lalu kami memfokuskan strategi dengan mengembangkan basis pelanggan di dalam negeri, terutama pemasaran produk-produk emas serta bijih nikel Antam. Hal inilah yang menjadi salah satu pendorong terjaganya produksi segmen nikel hingga feronikel dapat mencatatkan rekor,” ujar dia dalam keterangan tertulis dikutip dari keterbukaan informasi perusahaan, Senin (22/3/2021).

Dikutip dari asiatoday.id, di tahun 2020 Antam mencatatkan produksi feronikel sebesar 25.970 ton nikel dalam feronikel (TNi) naik dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan feronikel Antam menjadi kontributor terbesar kedua dari total penjualan bersih perusahaan sebesar Rp4,46 triliun atau 17 persen dari total penjualan 2020.

“Untuk bijih nikel sendiri, Antam mencacatkan produksi sebesar 4,67 juta wet metric ton (wmt) yang digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel Antam dan untuk pemenuhan kebutuhan pelanggan domestik,” tambah Kunto.

Performa bijih nikel Antam yang saat ini difokuskan di dalam negeri memberikan kontribusi sebesar Rp1,87 triliun atau 7 persen dari total penjualan perusahaan, tumbuh 93 persen dibandingkan penjualan domestik segmen nikel di tahun 2019 sebesar Rp968,16 miliar.

“Secara akumulatif, segmen nikel Antam memperoleh laba usaha segmen sebesar Rp2,22 triliun dan laba tahun berjalan segmen nikel sebesar Rp1,92 triliun,” papar Kunto.

Pada tahun 2021 ini, Kunto memaparkan strategi Antam akan tetap menjaga biaya produksi tetap rendah sehingga daya saing usaha produk Antam tetap terjaga positif di tengah volatilitas harga komoditas internasional.

“Antam melihat prospek bisnis nikel tahun ini masih akan tetap baik seiring dengan outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri,”kata Kunto.

“Kenaikan outlook bijih nikel di Indonesia terjadi seiring dengan kualitas produk bijih nikel Antam yang sesuai dengan kebutuhan pasar domestik serta pertumbuhan pengolahan nikel di dalam negeri yang mengakibatkan kenaikan permintaan nikel domestik,” jelasnya.

Saat ini Antam tercatat sebagai salah satu produsen feronikel global berbiaya rendah dengan capaian biaya tunai sebesar USD3,36 per pon. Capaian ini memperkokoh posisi Antam sebagai salah satu pemain feronikel global yang berdaya saing tinggi. (ATN)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU