Gawat! Lebih 7 Ribu Anak di Indonesia Sudah Terpapar Covid-19

1.926

 

JAKARTA, LENTERASULTRA.COM

Pandemi coronavirus (Covid-19) di Indonesia kian menyasar kelompok anak-anak.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr Fidiansjah SpKJ MPH, saat ini sudah 7.008 anak di Indonesia terpapar Covid-19.

Fidiansjah menjelaskan, yang dimaksud anak adalah orang berusia di bawah 18 tahun, dan angka 7.008 orang anak itu adalah 8,1 persen dari kasus Covid-19 di Indonesia.

Fidiansjah mengungkapkan hal itu saat berbicara dalam dialog Status Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja di Masa Pandemi yang digelar secara daring yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Senin (20/7/2020).

Melansir Asiatoday.id, Fidiansjah mengatakan, dari 7.008 anak terpapar Covid-19 itu, sebanyak 8,6 persen dirawat, 8,3 persen sembuh, dan 1,6 persen meninggal.

BACA JUGA:  Peduli Covid-19, Paguyuban Tionghoa Sultra Sumbang Ratusan APD ke Pemkot Kendari

Berdasarkan data, jumlah populasi anak di Indonesia sebanyak 79,5 juta orang atau 30,1 persen dari populasi penduduk Indonesia.

“Ini menjadi bagian tak terpisahkan dari paparan Covid-19. Efeknya terhadap kesehatan jiwa anak, selama PSBB ada anak yang tak bisa mengakses pembelajaran jarak jauh secara daring,” ujarnya.

Merujuk hasil penelitian lembaga swadaya masyarakat (LSM) Wahana Visi Indonesia, terungkap sejumlah faktor risio masalah kesehatan jiwa dan gangguan jiwa pada anak selama pandemi Covid-19.

Fidiansjah menuturkan hanya 68 persen anak  memiliki akses pada pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara online selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PDBB).

BACA JUGA:  Alasan Perusahaan Datangkan 500 TKA bakal Berdampak Positif Bagi Tenaga Kerja Lokal

Dengan demikian ada 32 persen anak tidak mengakses program belajar dalam bentuk apapun. Akibatnya, anak harus belajar sendiri.

Dilain pihak, 37 persen anak tidak bisa mengatur waktu belajar, dan 30 persen anak kesulitan memahami pelajaran, dan ada 21 persen anak tidak memahami instruksi guru.

“Dampak psikososial juga mengkhawatirkan ada 47 persen anak bosan tinggal di rumah, 35 persen anak merasa khawatir ketinggalan pelajaran, dan 15 persem anak merasa tidak aman,” tandas Fidiansjah. (ATN)

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Ruangan komen telah ditutup.

error: Content is protected !!