UHO Hadirkan Pokja Layanan Disabilitas

KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Universitas Halu Oleo (UHO) menunjukan komitmennya sebagai kampus yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Perguruan tinggi terbesar di Sultra tersebut baru saja membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Layanan Disabilitas, dan kini tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk membangun kampus yang ramah difabel.
“Setelah dilantik oleh Rektor UHO, fokus awal kami saat ini adalah pendataan, deteksi dini, dan penguatan layanan konseling bagi mahasiswa berkebutuhan khusus,” ujar Dr. Nur Rijal, S.Pd., M.Pd, Ketua Pokja Disabilitas UHO saat ditemui. Kata Nur Rijal, pihaknya saat ini melakukan menyeluruh terhadap mahasiswa disabilitas sebagai dasar penyusunan program dan kebijakan universitas.
Data awal menunjukkan sedikitnya 17 mahasiswa disabilitas sudah teridentifikasi di lingkungan UHO. Selain itu, pihaknya juga tengah menyusun mekanisme deteksi dini di setiap fakultas dengan membentuk “influencer disabilitas”, yakni perwakilan yang akan dilatih untuk mengenali dan melaporkan indikasi mahasiswa dengan kebutuhan khusus melalui sistem call center kampus.
“Kami ingin deteksi ini berjalan secara sistematis. Tidak hanya dari pihak Pokja, tetapi juga melibatkan fakultas, dosen, hingga organisasi mahasiswa,” tambahnya. Dalam jangka panjang, POKJA akan berkolaborasi dengan Unit Penunjang Akademik (UPA) Bimbingan dan Konseling untuk menyediakan layanan konseling khusus bagi mahasiswa disabilitas, baik fisik maupun mental.
Dr. Rijal menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam membangun kampus inklusif bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga kesiapan mental dan empati sivitas akademika. “Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami tekanan mental karena merasa berbeda. Tugas kami adalah memastikan mereka punya tempat aman untuk berkembang, bukan sekadar bertahan,” ujarnya.
Program lain yang akan dijalankan adalah pelatihan bagi tenaga kependidikan dan staf layanan akademik, termasuk petugas keamanan dan pustakawan, agar memahami cara melayani mahasiswa disabilitas dengan standar inklusif. UHO juga berencana menyusun panduan dan SOP pengajaran bagi dosen, termasuk pembuatan buku saku difabel sebagai pedoman bagi seluruh civitas akademika.
Dalam paparannya, Dr. Rijal juga mengungkapkan hasil pemetaan awal terhadap potensi penerimaan mahasiswa difabel dari sekolah luar biasa (SLB) di Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data POKJA, tiga daerah dengan jumlah SLB terbanyak adalah Kabupaten Muna, Kota Kendari, dan Kabupaten Kolaka. “Ini tantangan, kita harus siap secara fasilitas, kebijakan, dan sistem pembelajaran agar mereka bisa kuliah dengan nyaman dan setara,” pungkasnya.
Wa Ode Saktila Mayangsari, M.Pd., selaku Divisi Kerelawanan, Advokasi, dan Kemitraan, menambahkan bahwa dukungan masyarakat kampus menjadi faktor penting dalam membangun lingkungan yang ramah difabel. Menurutnya, kampus yang inklusif bukan hanya tentang fasilitas, tapi soal kesadaran bersama untuk menerima keberagaman.(*/B)
Penulis :Roni
