Ayah Mutmainnah Zahra: “Anak Saya Itu Mau Diperkosa”
Tragedi Pembunuhan Sadis di Kolaka Timur

TIRAWUTA, LENTERASULTRA.COM–Suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga Baharuddin di Desa Hakambololi, Kecamatan Poli-Polia, Kabupaten Kolaka Timur. Di rumah sederhana itu, air mata belum berhenti mengalir sejak kabar pilu datang. Putri sulung mereka, Mutmainnah Zahra (10), ditemukan tak bernyawa setelah menjadi korban pembunuhan sadis.
LAPORAN : ERITMAN
Dua tenda besi masih berdiri di halaman, kursi-kursi plastik berserakan menandakan betapa banyak pelayat datang silih berganti. Di sudut garasi, sebuah sepeda listrik warna abu-abu terparkir tanpa pernah lagi disentuh. Sepeda itulah yang terakhir kali digunakan Zahra saat berangkat mengaji, sebelum langkah kecilnya terhenti di tangan seorang remaja tanggung bernama Rahmat.
Di dalam rumah, duka terasa lebih pekat. Foto Zahra saat wisuda taman kanak-kanak tergantung di dinding, menjadi saksi bisu air mata kerabat yang memandanginya dengan hati tak percaya. Kasur tempat ia terakhir kali berbaring dibiarkan begitu saja, seolah keluarga masih berharap bocah periang itu pulang dan tersenyum lagi.
Mulyani, ibunda Zahra, duduk termenung dengan tatapan kosong. Matanya sembab, bulir-bulir air mata terus jatuh tanpa mampu ia bendung. Sesekali kerabat mendekat, berusaha menenangkan dan merayu perempuan berusia 35 tahun itu ikhlas menerima ketetapan takdir. Namun luka kehilangan itu terlalu dalam untuk segera terobati.
Sementara sang ayah, Baharuddin, tampak lebih rapuh. Rambut gondrongnya terurai kusut, wajahnya kaku menahan amarah bercampur rindu. Sejak kejadian, ia belum sekalipun memejamkan mata. Nafasnya berat, sesekali ia berteriak memanggil nama putrinya. “Saya tidak percaya anakku itu mengejek. Bohong itu. Dia mau perkosa anakku,” ucapnya getir, dengan suara parau menahan isak.
Baharuddin yakin, alasan pelaku yang mengatakan dibakar emosi karena sering diejek hanyalah dalih murahan. “Anak saya itu sopan sekali. Tanyakan siapa pun yang kenal dia, pasti mereka tahu.” Ia percaya, putrinya justru menjadi korban percobaan pemerkosaan, dan karena melawan, pelaku panik lalu menghabisinya dengan parang.
Getir semakin terasa ketika Baharuddin bercerita soal firasatnya. Sehari sebelum kejadian, ia bermimpi ada kecelakaan motor di depan rumahnya, ramai orang berkerumun. “Ternyata maknanya, orang ramai bukan karena kecelakaan, tapi karena anakku dibunuh sadis,” ucapnya lirih.
Amarahnya pun memuncak saat bicara soal hukuman bagi pelaku. “Kalau hukumannya tidak setimpal, lebih baik keluarkan saja dia dari tahanan. Biar saya yang urus. Biar saya tanggung semua risikonya, asal sakit di hati saya ini terbalas.”

Paman korban, Kamaruddin, juga menolak mentah-mentah klaim pelaku. Menurutnya, Zahra sama sekali tak mengenal Rahmat. “Bagaimana mungkin dia mengejek, sementara bahkan warga Desa Wundubite banyak yang tidak kenal pelaku. Apalagi Zahra, anak polos yang baru dua bulan belajar mengaji di sana,” ujarnya heran.
Tim Lenterasultra sempat menyusuri tempat kejadian perkara, hanya sekitar 500 meter dari rumah korban. Bercak darah masih jelas terlihat di empat titik berbeda, dengan jumlah terbanyak di bawah pohon kakao tempat Rahmat menghabisi nyawa Zahra.
Darah lainnya berceceran di rerumputan, jejak pilu dari usaha bocah itu merangkak mencari pertolongan. Ia berjuang sekuat tenaga hingga akhirnya ditemukan oleh warga bernama La Upe. Namun meski segera dibawa ke rumah sakit, nyawanya tak terselamatkan.
Bagi warga sekitar, Zahra bukanlah sekadar anak kecil. Ia dikenal sebagai bocah yang sopan, periang, dan rajin mengaji. “Anaknya itu baik sekali, tidak pernah berani bicara kalau tidak ditegur dulu. Sangat sopan sama orang tua,” tutur Asriani, salah satu kerabat.
Kini, keluarga hanya bisa menatap kosong sisa peninggalan almarhumah—sepeda kecil, foto masa kanak-kanak, dan kenangan tawa yang telah direnggut paksa. Tragedi ini bukan hanya melukai keluarga, tapi juga meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Kolaka Timur.(*)
