Wartawan Harus Bekerja Sepenuh Hati, Bukan Sekedar Sepenuh Gaji

DR Aqua Dwipayana menjadi narasumber dihadapan 28 wartawan dari Kota Kendari, Sulawesi Tenggara yang ikut CMB Bank Indonesia Perwakilan Sultra  pada tanggal 23 sampai 26 Agustus di Yogyakarta. Foto : humas BI Sultra

YOGYAKARTA, LENTERASULTRA.COM- Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara (Sultra) terus berupaya memperkuat sinergitas dengan insan pers di Bumi Anoa. Beragam program dilakukan Bank Sentral itu untuk merawat kemitraan tersebut. Capacity Building Media (CBM), salah satunya. Tahun 2026 ini, program tersebut sudah ditunaikan di Yogyakarta.

Sebanyak 28 wartawan diikutkan dalam program Capacity Building Media. Mereka didominasi wartawan ekonomi yang sehari-hari bertugas di wilayah Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara.  Selama tiga hari, mulai 23 sampai 25 Agustus berada di Kota Pelajar, Bank Indonesia Sultra memfasilitasi tambahan pengetahuan menulis dan wawasan serta pengalaman bagi 28 jurnalis.

DR Aqua Dwipayana, pakar komunikasi dan motivator nasional, menjadi salah satu narasumber yang dihadirkan Bank Indonesia Sultra dalam program CBM di Kota Gudeg. Mantan wartawan Jawa Pos ini berbagi banyak pengetahuan dengan rekan-rekan sejawatnya dari jurnalis yang datang dari Kota Kendari.

Mulai dari membahas kerja-kerja jurnalis, prinsip hidup, hingga visi dan misi BI Sultra. Seluruh materinya itu dikemas dengan judul The Power of Silaturahmi, mempererat hati, membangun negeri. Aqua memberikan materinya dari Desa Wisata Pentingsari di Dusun Pentingsari, Kelurahan Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Rabu, 25 Agustus 2026.

Mantan wartawan Bisnis Indonesia bilang, dirinya hadir ditengah-tengah wartawan bukanlah soal materi, melainkan manfaat yang dapat dirasakan oleh banyak orang. Bekerja sebagai wartawan merupakan profesi yang mulia. Olehnya itu, seorang jurnalis harus kredibel, layak dipercaya dan bekerja dengan sepenuh hati, bukan sekadar sepenuh gaji. “Kalau sepenuh hati itu totalitas. Tapi kalau sepenuh gaji itu hitung-hitungan,” katanya.

Doktor kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara ini mengaku, tantangan profesi wartawan di era digital seperti saat ini sangat banyak, diantaranya fitnah dan tekanan sosial. “Makanya saya tekankan, jurnalis itu harus kredibel. Kalau tidak kredibel dan layak dipercaya tidak mungkin Bank Indonesia membawa rekan-rekan wartawan ke sini (Yogyakarta). Saya punya keyakinan, banyak yang ingin ikut. Banyak sekali. Bila perlu sangat banyak sekali. Dan pasti, mohon maaf, saya kan pernah jadi wartawan. Kalau pergi-pergi begini, fitnahnya banyak banget. Kalau orang sudah melihat, fitnah. Benar kan? Saya paham. Karena saya pernah jadi wartawan,” sambungnya.

Alumni Strata Satu Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang juga berharap wartawan dapat menjadi jembatan informasi yang jujur dan bermanfaat bagi masyarakat. Jurnalis sambung Aqua, bukan hanya menyampaikan informasi, jurnalis membantu masyarakat memahami apa yang sedang terjadi. Tidak hanya itu, pakar komunikasi dan motivator nasional ini meminta wartawan memberitakan kebenaran secara objektif dan hindari kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain.

Foto bersama peserta CBM Bank Indonesia dengan kepala perwakilan BI Sultra Edwin Permadi, narasumber DR Aqua Dwipayana. Foto  Humas BI

Abiturien Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung juga mengingatkan wartawan untuk tidak pernah hitung-hitungan. “Karena apa, filosofinya seperti air zam zam. Air zam-zam sejak pertama ditemukan sampai hari ini miliaran orang mengambil dan membawa pulang. Logikanya kering, logikanya habis tapi realitanya tidak, saya sudah pernah merasakannya dan menjadi ketagihan,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu, alumni doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung turut memberikan masing-masing tiga buku kepada seluruh wartawan yang mengikuti CBM, salah satunya berjudul ”The Power of Silaturahim” yang berisi tentang Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi yang ditulisnya.

Selain mengulas terkait kerja-kerja wartawan, ayah dua orang putra ini juga berbagi pengalaman hidupnya. Katanya, kunci hidup agar berkah dan bermakna harus menerapkan 3 B. Pertama, berdoa. Langit adalah sumber kekuatan. Berdoa bukan hanya meminta, tetapi menyerahkan dan mempercayakan. “Kita mengawalinya dengan berdoa. Tanpa Allah, tanpa Tuhan, kita tidak bisa ngapa-ngapain.

Kedua, berkerja. Bekerja adalah bentuk ikhtiar terbaik untuk memberi manfaat dan menciptakan nilai. Yang ketiga adalah Bersyukur. Bersyukur membuat kita cukup, tenang dan selalu melihat kebaikan disetiap keadaan. “Saya bersyukur pernah menjadi wartawan. Tapi saya lebih bersyukur lagi menjadi orang seperti sekarang ini. Sebagai motivator. Saya sudah jalan di 38 provinsi. Sudah jalan di 35 negara. Sudah berbicara dengan 3 juta orang lebih. Sudah banyak menulis buku,”katanya.

Aqua berpesan kepada seluruh wartawan yang ikut CBM agar jangan pernah merasa puas pada pencapaian sekarang, Ia menyarankan agar setiap wartawan punya kesempatan meningkatkan kemampuan, formal maupun informal, lakukan. “Karena apa? Kalau kita bicara ini, satu-satunya kekayaan manusia yang tidak bisa dijual kepada siapapun, kecuali diambil oleh Allah, adalah ini (Ilmu) dan jangan bilang tidak mungkin, tidak bisa. Setelah selesai S1, lanjutkan S2, lalu S3 dan seterusnya. Rugi kalau tidak ambil kesempatan karena jika selesai manfaatnya semakin besar,” katanya.

Dr. Aqua juga menjelaskan tentang peran keluarga dalam kehidupan seorang wartawan. Katanya, kesuksesan seorang wartawan tidak hanya diukur dari karier, tetapi juga dari kebahagiaan dan keberkahan keluarganya. “Kerja itu ibadah, rezeki itu jatah. Kerja keras dengan niat ibadah dan ketulusan hati akan mendapat balasan dari Tuhan,” katanya,

Aqua bilang, profesi wartawan sangat sibuk bekerja. Bahkan yang namanya kerja itu, sampai pensiun dan meninggal, tidak pernah selesai. Tapi satu hal yang perlu dipahami, bahwa ada waktu dan itu bersama keluarga.

Aqua juga mengingatkan peserta CBM Bank Indonesia Sultra agar memberikan pendidikan agama sejak dini kepada anak-anaknya. “Bapak ibu ini sibuk, apalagi ketika sedang di sini semua tidak bisa mengontrol anak-anaknya. Dengan agama, dia memfilter,” katanya.

Selain itu, jangan pernah memberikan makanan atau minuman yang haram kepada keluarga. “Yang bukan hak kita, jangan diambil. Begitu diberikan kepada keluarga, hancur keluarganya,” sambungnya.

Dan yang ketiga kata Aqua, jadilah orang tua yang demokratis. Jangan memaksakan kehendak. “Saya dengan anak-anak seperti teman-teman saja. Kita juga sebagai orang tua selalu responsif terhadap kebutuhan anak-anak,” ungkapnya.

Sementara untuk Bank Indonesia Sultra, Aqua memuji program Bank Indonesia melaksanakan program CBM dengan melibatkan puluhan media dan jurnalis di Sulawesi Tenggara. Kepada Bank Indonesia Sultra, Aqua meminta agar media jangan dijadikan pelengkap tetapu media sebagai mitra bukan sekedar saluran publikasi. “Saya berpesan kepada Bank Indonesia Sultra agar membangun komunikasi secara keberlanjutan kepada media, pahami kebutuhan dan karakter media dan ciptakan hubungan yang saling menguntungkan,” pesan Aqua.

 

Aqua DwipayanaBank Indonesia SultraCBM