BOMBANA, LENTERASULTRA.COM-Bermimpi besar untuk membangun industri pengolahan biji nikel di Pulau Kabaena, PT Bumi Makmur Resources (BMR) malah kolaps di tengah jalan. Perusahaan itu memilih menyerah setelah gagal mewujudkan rencana besarnya. Sebelum pamit, perusahaan yang berinvestasi di Desa Mapila dan Desa Wumbulasa Kecamatan Kabaena Utara itu, memilih menyerahkan berbagai aset berharganya ke Pemkab Bombana.
Pembahasan mengenai masalah penyerahan aset tersebut secara serius sudah mulai dilakukan PT BMR bersama pemerintah dalam sebuah pertemuan di Rumbia, 2 Desember lalu. Pertemuan itu digelar di aula Kantor Bupati Bombana yang dihadiri langsung Bupati dan Wakil Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, Kajari termasuk pihak Badan Pertanahan Nasional dan dinas terkait.
“Salah satu kesimpulan rapat itu, akan dibentuk tim kecil guna menginvetarisasi asset-aset PT BMR yang bakal mereka serahkan,” ungkap Ahmad Yani, Wakil Bupati Bombana saat dihubungi lenterasultra.com. Katanya, tim itu nantinya akan memastikan seluruh asset yang bakal diserahkan tersebut dalam posisi clear and clean (CnC) atau tidak dalam sengketa dengan pihak manapun.
Dalam waktu dekat ini, kata Wakil Bupati, tim akan sama-sama ke lokasi PT BMR di Kabaena, guna melakukanh evaluasi dan memeriksa semua dokumen milik PT BMR yang terkait dengan aset yang rencana dihibahkan tersebut. “Kalau tidak salah, mungkin tanggal 8 Desember, tim ini bersama pihak perusahaan akan ke lokasi. Kita menyambut baik rencana hibah aset itu, tapi harus clear semua. Baik dokumen maupun fisiknya,” tukas mantan Wakil Ketua DPRD Bombana ini.
Ahmad Yani menyebutkan, beberapa aset yang rencananya dihibahkan oleh BMR mulai dari jalan yang sudah dikuasi perusahaan, bangunan, perlengkapan termasuk material tersisa seperti pasir yang masih lebih 1000 kubik, ada semen lebih 1000 ton, termasuk batu suplit, ratusan meter kubik. Semua ini, nanti akan dihibahkan ke Pemda untuk kemudian dimanfaatkan, untuk daerah tentu saja.
Untuk diketahui, PT BMR ini mulai masuk di Kabaena sejak tahun 2021 dan berinvestasi di lahan seluas 766,1 hektar dengan nilai investasi Rp.3 Triliun dengan jumlah karyawan yang direkrut sekitar 200 orang. PT BMR rencananya bakal memproduksi kristal nikel sulfat dengan kapasitas 45.000 Ton/Tahun atau 10.000 Ton Nikel/tahun. Produk ini merupakan bahan baku baterai dan barang lain yang menggunakan teknologi tinggi.
Sayangnya, semua hanya angan-angan. Setelah 4 tahunan membangun berbagai persiapan di lokasi, merekrut karyawan, memberi manfaat kepada warga lokal lewat program pemberdayaan masyarakat, mereka akhirnya menyerah. Kabarnya, perusahaan yang dipimpin Arief Budi Prasetyanto sebagai direktur utama tersebut, gagal mendapatkan investor untuk mempertahankan usahanya.(red)