RS Bahteramas Kini Lebih Baik di Tangan Direktur Baru

Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka (bermasker) bersama Direktur RSUD Bahtermas, dr Muhammad Saiful saat gubernur mengunjungi rumah sakit itu, akhir Oktober lalu. Gubernur menekankan perbaikan layanan agar rumah sakit itu jadi rujukan utama masyarakat, bahkan yang dari luar Sultra. FOTO :PEMPROV SULTRA

 

KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Kepercayaan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka terhadap dokter Muhammad Saiful Sp.B Subsp Onn (K) sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas Kendari yang baru, tak sia-sia. Di tangan dokter spesialis Onkologi ini, wajah rumah sakit pelat merah itu berubah drastis. Pelayanan makin humanis dan fasilitas yang kian canggih.

Menariknya, semua capaian itu dilakukan dokter Muhammad Saiful hanya dalam waktu kurang lebih empat bulan. Ia memulainya dengan mengubah citra rumah sakit dari depan. Pohon trambesi yang sudah  uzur dan menutupi gedung utama rumah sakit dipangkas. Diatas lahan yang ditumbuhi pohon-pohon tua yang sewaktu-waktu bisa ambruk, Saiful menggantinya dengan berbagai tanaman bunga dan pohon pelindung.

Di lahan yang ditumbuhi aneka tanaman baru itu, dokter spesialis bedah tumor ini menerapkan konsep smart garden atau sistem teknologi otomatis dan sensor untuk mengelola perawatan tanaman. Dengan perubahan tersebut, wajah RS Bahteramas tidak terlihat kumuh dan seram lagi. “Seluruh tanaman disiram otomatis. Dalam sehari dua kali penyiraman. Jam, delapan pagi dan jam enam sore,” kata dokter Saiful, saat mengajak lenterasultra.com, berkeliling kawasan rumah sakit itu, pekan lalu.

Selain menata taman depan rumah sakit alumni kedokteran umum Universitas Hasanuddin ini memberikan pencahayaan diberbagai sudut rumah sakit yang selama ini terlihat gelap. Menariknya, untuk penerangan malam didesain secara tematik. Hal ini dilakukan agar pengunjung atau pasien tidak merasa sedang berada di rumah sakit, tapi di universe lain.

Dua perubahan ini menjadi target di pekan pertama Saiful menjabat. Menurutnya, selama belasan tahun mengabdi di rumah sakit Bahteramas, persoalan kekumuhan dan gelapnya sudut-sudut rumah sakit sudah sering dilihat dan dirasakan dokter Saiful selama bertugas di rumah sakit pelat merah tersebut. Belum lagi persoalan pelayanan yang tidak maksimal.

“Rumah sakit Bahteramas, dulu begitu angker. Dari segi penerangan yang kurang bahkan gelap. Air macet. Mau buang air kadang tidak ada air. WC tersumbat, kamar mandi bocor. Belum lagi pencuri bebas masuk. Antrian mulai jam 3 subuh sampai 3 sore. Belum lagi antrian obat. Luar biasa lamanya. Ini keluhan-keluhan selama ini. Makanya begitu saya diberi amanah sebagai Direktur oleh gubernur, saya menerima tantantan ini dan saya berniat mengubah persoalan-persoalan di rumah sakit,” kata Saiful.

 

Lobby utama bangunan RSUD Bahtermas kini diubah jadi tempat pendaftaran pasien. Ini salah satu perubahan mendasar di rumah sakit itu yang memberi kenyamanan pada pasien dan menghilangkan rasa jenuh dan gerah saat antri. FOTO :ADHI

 

Untuk pelayanan pendaftaran rawat jalan juga berubah di tangan dokter konsultan bedah tumor ini. Jika selama bertahun-tahun pasien dan keluarganya selalu menumpuk dan antri berjam-jam di ruang pendaftaran,  begitu dokter Saiful jadi Direktur, tidak terlihat lagi antrian pasien dan keluarganya di ruang pendaftaran.

Lantas apa yang dilakukan dokter spesilis bedah tumor ini?  Konsep yang ditawarkan dokter Saiful adalah melakukan desentralisasi pendaftaran. Tempat pendaftaran dipindahkan. Jika selama ini terpusat di salah satu ruangan depan rumah sakit, maka dokter Saiful memindahkan di depan gedung utama rumah sakit. Ia memanfaatkan ruang lobby yang selama ini nganggur karena tidak difungsikan.

Di tempat ini, dokter Saiful menempatkan berbagai perlengkapan pendaftaran dan sumber daya manusianya. Di pintu masuk, disiapkan mesin pengambilan nomor antrian, kemudian mesin penginputan dan sidik jari pasien rumah sakit atau anjungan pendaftaran mandiri (APM) atau mesin pendataran mandiri, lalu barcode untuk cek inn online.

Untuk menerima berkas-berkas pendaftaran pasien, disisi kanan pintu masuk lobby disiapkan lima kursi sebagai tempat duduk pasien. Pendaftaran diterima langsung oleh lima tenaga yang disiagakan setiap hari. Sementara disepanjang lobby rumah sakit, dokter Saiful menyiapkan belasan kursi sofa sebagai tempat duduk pasien yang antri.

Di tengah-tengah ruang lobbi, tiga meja bundar plus kursi jati dan futura sebagai tempat antri pasien. Tidak sampai disitu, di ruang lobby atau tempat pendaftaran, disiapkan fasilitas air conditioner agar pasien tidak kegerahan selama melakukan proses pendataran. “Dulu antriannya dari jam 3 subuh sampai jam 3 sore. Sekarang, tidak boleh lagi ada antrian. Silakan anda cek sendiri,” kata Saiful.

Direktur RSUD Bahtermas, dr Muhammad Saiful menunjukan hal=hal yang dilakukannya di area taman rumah sakit, yang membuat tempat itu lebih nyaman dan asri dilihat. FOTO :ADHI

 

Dokter spesialis bedah tumor ini mengaku, begitu besar tantangan yang dihadapi saat ingin mengubah pelayanan pendaftaran rawat jalan. Namun karena tekadnya mengubah wajah rumah sakit pelat merah itu menjadi lebih baik dan lebih nyaman, semuanya berjalan dengan baik. Dan perubahan ini dilakukan hanya sepekan setelah dia dilantik menjadi direktur rumah sakit Bahteramas. Padahal antrian sudah bertahun-tahun terjadi. Perubahan ini sudah dirasakan manfaatnya. Bukan hanya pasien dan keluarganya, tetapi juga petugas Kesehatan rumah sakit.

Emi, salah satu petugas Kesehatan di ruang pendaftaran mengatakan, sejak pelayanan pendaftaran dialihkan di ruang lobby, tidak terlihat lagi antrian pasien yang melakukan pendaftaran. Pasien dan keluarganya yang datang berobat juga merasa nyaman saat menunggu pendaftaran. Perubahan ini sambung Emi terjadi ketika dokter Saiful menjadi Direktur rumah sakit Bahteramas.

Selain mengubah pelayanan pendaftaran, dokter Saiful juga merevitalisasi jaringan air bersih di rumah sakit Bahteramas. Jika selama ini sumber air menggunakan air PDAM, maka begitu dirinya masuk, sumber air rumah sakit Bahtaremas menggunakan sumur air dibawah permukaan tanah atau sumur bor. Kurang lebih dua bulan menjabat, dokter Saiful sudah membangun 10 sumur bor di dalam kawasan rumah sakit.

Menurut Saiful, selama ini sumber utama air rumah sakit dari PDAM di seberang kantornya. Untuk bisa mengailiri beberapa ruangan di rumah sakit, air PDAM ini dibantu dengan mesin pompa sekitar 75 ribu watt. Itupun tak lancar. “Akhirnya apa yang saya lakukan. Saya bangun sumur bor 10 titik. Kita minta izin sesuai prosedur. Di gedung Dahlia misalnya, itu ada enam blok, saya bangun 3 sumur bor. Di beberapa gedung lain dibangun enam sumur bor,” katanya.

Dampaknya besar. Pertama penggunaan Listrik di rumah sakit jadi berkurang. Kedua, air lancar dan tidak macet lagi. Ketiga, tandon-tandon air yang kumuh, mesin air dan rumah pompa yang kumuh, kabel-kabel bergantungan, pipa-pipa yang berantakan hilang semua. Dampak yang paling menyolok adalah pembayaran listrik. Jika selama sebulan bisa tembus 680 juta rupiah, dengan sumur bor mengalami penurunan sekitar 300 hingga 500 juta perbulan.

Efek lainnya adalah penurunan pembayaran air yang bersumber dari PDAM. Jika sebelumnya pembayaran air berkisar 280-an juta perbulan, dengan penggunaan sumur bor ini bisa menurun hingga 50 sampai 70 perbulan. “Insya Allah masih banyak lagi perubahan-perubahan pelayanan di rumah sakit ini. Dan saya bersukur apa yang menjadi kebijakan ini, terlebih dulu saya laporkan kepada Pak Gubernur dan beliau sangat mendukung karena gubernur mengingkan rumah sakit Bahteramas menjadi pusat rujukan terbaik di Sulawesi Tenggara,” ungkap Saiful. (ADV)