Suara Mahasiswa Disabil UHO ; Sering Dikucilkan, Sesekali Dirundung

Mahasiswa UHO yang terdata sebagai penyandang disabilitas, berfoto bersama pengelola Pokja Layanan Disabilitas UHO, usai pelantikan unit kerja ini, Jumat (24/10). FOTO :ANNISA

 

 

Setelah berdiri lama, Universitas Halu Oleo (UHO) akhirnya bisa punya satu unit kerja yang fokus mengurusi mahasiswa penyandang disabilitas. Namanya Pokja Layanan Disabilitas, dan baru saja dilantik. Meski sedikit telat, tapi unit ini diharapkan melahirkan layanan inklusif yang ramah terhadap para penyintas.

 

Rahmanisa

 

KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Namanya Rina. Sejak tahun 2022, ia tercatat sebagai mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO). Sehari-hari ia menjalani rutinitas perkuliahan sebagai anak fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia. Rina istimewa. Secara fisik, gadis berusia 21 tahun ini terlihat berbeda dari mahasiswa lainnya. Tingguh tubuhnya tak sampai semeter, alias hanya 85 centimeter.

Tapi jangan tanyakan semangat belajarnya, luar biasa tinggi dan besar. Kondisi tubuhnya tak membuatnya minder untuk bergaul dengan siapa saja. Kendati begitu, Rina tetap saja sesekali berhadapan dengan orang-orang iseng yang merundungnya. “Ada yang suka bilang, aii..sudah tua tapi masih kecil. Tidak enak didengar, meski bercanda,” kata Rina, menceritakan perundungan yang ia alami.

Untung Rina tak Baper. Jika ada yang mengolok-olok tubuhnya, ia punya jawaban template. “Biar mi kecil, yang penting otaknya pintar. Daripada besar, tapi tidak ada otak,” balasannya, seperti itu. Menohok. Ia tak mau perundungan yang dialaminya membuat semangat belajarnya luntur. Apalagi, ia masih punya banyak kawan baik yang selalu siap membelanya.

Makanya, Rina bersyukur setelah tahu jika UHO kini punya Pokja Layanan Disabilitas. Setidaknya, ia punya tempat berkeluh-kesah jika ada yang merundung dirinya. Tidak hanya itu, kehadiran Pokja tersebut bisa memikirkan menghadirkan fasilitas dan akses agar mempermudah aktivitas mereka selama kuliah. Misalnya, saat ke gedung yang lebih tinggi harusnya ada lift.

“Termasuk fasilitas lain seperti tangga, WC, perpustakaan, atau ruang kelas. Kursi dan mejanya juga belum ramah terhadap disabil. Saya harap UHO bisa mencontoh kampus lain seperti UNS, yang punya layanan difabel lengkap,” harap Rina. Ia sangat percaya bahwa Pokja tersebut bisa mendorong lahirnya lingkungan kampus yang ramah terhadap penyintas disabilitas.

Cerita lain lahir dari sosok perempuan bernama Febriyanti Indriani Yusuf. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2023 ini seringkali mengalami perlakuan berbeda dari lingkungan, bahkan dari kawan-kawan sekelasnya. Penglihatannya yang bermasalah, kerap dipersepsikan keliru oleh dosen yang masuk mengajar.

Suatu saat, seorang dosen masuk mengajar di kelasnya. Materi kuliahnya ditampilkan dalam bentuk Power Point (PPt). Karena penglihatannya terganggu, Febriyanti terpaksa merekam materi itu dengan foto Ponselnya. Tujuannya, agar bisa ia lihat dari jarak sangat dekat, dengan bantuan kaca mata. “Malah saya dimarahi. Dianggap tidak memperhatikan kuliah,” kisah Febri.

Tak hanya itu, ia juga sekali dua dikucilkan kawan-kawannya. Misalnya, saat hendak berwelfie atau berfoto bersama, kehadirannya seperti tak dianggap. Kawan-kawannya cekrek-cekrek dengan kamera, Febri memandang dari kejauhan sembari tersenyum kecut. “Itu di kelas, saya merasa agak terpisah. Kalau teman-teman foto bareng, saya tidak diajak. Rasanya sedih,” katanya.

Makanya, Febriyanti berharap besar dengan kehadiran Pokja Layanan Disabilitas tersebut, orang-orang seperti dirinya yang istimewa, bisa lebih diperhatikan. “Kami tak minta dikasihani. Kami ingin kuliah, tumbuh, dan diterima seperti mahasiswa lainnya,” harapnya.

Di UHO, berdasarkan pendataan awal, ada 17 mahasiswa penyandang disabilitas yang tersebar di berbagai jurusan di kampus itu. Ketua Pokja, Dr. Nur Rijal, S.Pd., M.Pd., menyebutkan bahwa pendataan awal melalui formulir di tiap fakultas merupakan tahap pertama untuk memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas. “Kami tidak ingin hanya punya data, tapi juga sistem. Data ini dasar agar kebijakan dan fasilitas bisa tepat sasaran,” jelasnya.

Masalah yang dihadapi mahasiswa difabel di UHO sesungguhnya juga terjadi di tingkat nasional.
Menurut data Komisi Nasional Disabilitas (2024), dari sekitar 17,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia, hanya 2,8 persen yang berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Dari 4.500 kampus, hanya sekitar 291 yang menerima mahasiswa disabilitas, dan baru 70 kampus yang memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) aktif.

Menurut Nur Rijal, Pokja yang dipimpinnya itu menyiapkan berbagai program lanjutan, mulai dari sistem deteksi dini di tiap fakultas melalui perwakilan “influencer disabilitas”. Ada juga layanan konseling khusus bagi mahasiswa disabilitas fisik maupun mental hingga panduan pengajaran dan buku saku difabel untuk dosen serta tenaga kependidikan.(*/B)