KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Di Sulawesi Tenggara, bocah ini tanda tanding. Anak-anak seusianya, boleh saja pandai membaca Al Qur’an, tapi tak ada yang semerdu suaranya. Mungkin ada yang suaranya setara, tapi tak bisa menandingi mahrajnya saat membaca ayat-ayat suci. Bocah itu bernama Muhammad Ammar Al Gazali. Ia baru saja mengangkat sebuah kehormatan bagi orang tua, agama dan daerahnya.
Rony Febryan, Kendari.
Usianya baru 12 tahun. Tapi prestasinya sudah bikin takjub. Panggung Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist (STQH) Nasional ke 28 di Kendari baru saja menobatkannya sebagai jawara kedua dalam di cabang tilawah Al-Qur’an golongan anak-anak. Apa artinya? Se Indonesia, Ammar hanya kalah dari satu orang anak yakni dari Kalimantan Timur bernama Muhammad Murjani Alawi.
Ammar memang seorang dengan talenta istimewa. Setahun lalu, di ajang MTQ Provinsi Sultra, ia sudah menunjukan bakat luar biasa dengan menjadi kampiun di cabang serupa, mewakili Kota Kendari. Kini, kepiawaiannya membaca kalam ilahi untuk anak seusianya, membawanya naik kelas. Level nasional.
Sehari-hari, bocah itu menimba ilmu di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Al Mannan Kendari. Di tempat itulah ia mengasah bakatnya sebagai seorang qori masa depan. “Saya sangat senang dan bangga bisa mengharumkan nama Sultra, apalagi sebagai tuan rumah STQH Nasional,” kata Ammar, dengan wajah malu-malu sembari menggengam erat trophy juara yang baru saja ia terima dari para pesohor negeri bidang keagamaan.
Ammar sendiri mengaku telah mempersiapkan diri selama kurang lebih lima bulan menjelang STQH Nasional. Ia mempelajari teknik pernapasan, makhraj, serta penghayatan bacaan di bawah bimbingan gurunya. Sebelumnya, Ammar juga pernah mewakili Sulawesi Tenggara di ajang MTQ Nasional 2024 di Kalimantan Timur, sehingga pengalamannya menjadi bekal berharga dalam kompetisi tahun ini.
Keberhasilan Ammar disambut penuh haru oleh kedua orang tuanya yang turut hadir di arena penutupan. Sang ayah, dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan rasa syukur dan bangga. “Kami tidak menyangka Ammar bisa sampai di titik ini. Sejak kecil ia memang suka mendengar lantunan Al-Qur’an. Kami hanya berusaha mendukung, menanamkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya untuk lomba, tapi juga untuk kehidupan,” kata ayah Ammar.
Ketika ditanya tentang rahasia di balik keberhasilannya meraih juara, Muhammad Ammar Al Gazali dengan polos, bocah itu menjawab bahwa kuncinya adalah disiplin, sesuatu yang sudah ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil.
Kata Ammar, orang tuanyalah yang selalu mengingatkan untuk disiplin, baik dalam belajar, berlatih, maupun beribadah. Kalau jadwal latihan, saya tidak boleh terlambat. Kalau sudah waktunya mengaji, tidak boleh ditunda,” ujarnya dengan senyum malu-malu.
Dengan suara yang indah dan semangat yang tulus, Muhammad Ammar Al Gazali telah membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk berprestasi di tingkat nasional. Ia menjadi simbol generasi qurani Sulawesi Tenggara yang tak hanya fasih melantunkan ayat-ayat suci, tetapi juga membawa cahaya kebanggaan bagi daerahnya.(*/A)