Hanya butuh kopi, kata yang ditutur teratur, hati yang jernih dan kepala yang dingin. Satu perkara rumit orang Kabaena sudah langsung tuntas. Tak lama lagi, bentang jalan lingkar yang menghubungkan Kabaena Tengah hingga ke Timur bakal mulus. Belum bisa diaspal, tapi dipastikan rata, padat, lebar, tanpa kubangan dan jaminan waktu tempuh yang dipangkas.
Catatan : Abdi Mahatma
Bupati Bombana, Burhanuddin saat ini sedang “pulang kampung” ke Kabaena. Tentu, ia wajib mengajak wakilnya, Ahmad Yani. Agendanya kunjungan kerja. Bersama beberapa pejabatnya, mereka mendarat Rabu siang tadi di Sikeli, Kabaena Barat. Belum sempat istirahat panjang, apalagi mengawali agenda, ia sudah ditunggu 7 pria hebat. Mereka menyatukan diri jadi Aliansi Timur Tengah Bersatu. Ingin menemui Bupati dan Wakilnya.
Konsep awalnya, itu unjuk rasa. Polisi bahkan menyiapkan beberapa personil, standar pengamanan. Tapi semua jadi cair setelah kopi disuguhkan, kudapan dihidangkan. Bupati tahu, itu semua adalah warganya yang butuh didengar. Ahmad Yani, sang wakil yang tak pernah lepas dengan senyum, duduk di sampingnya. Tak ada pelantang suara, tak usah teriak-teriak dengan megaphone. Duduk saja, setara. Ini soal kebijakan, bukan personal.
Mereka meriung di depan sebuah penginapan di Sikeli. Diskusi dimulai. Sudah bisa ditebak, topiknya soal jalan. Tujuh lelaki hebat itu jauh-jauh ke Kabaena Barat, meminta waktu agar bisa menyampaikan kegelisahan. Jalan di kampung mereka kini paling parah. Ada yang longsor, menyempit, berlumpur dan penuh lobang. Duit dari Bombana ada yang kucur tapi titiknya ke daerah lain. Bukan ke daerah mereka yang lebih butuh.
Tonia Mitra Sejahtera (TMS), perusahaan tambang besar yang beroperasi di dua wilayah itu tak kunjung menepati janji. Padahal, Juli lalu sudah meneken komitmen bahwa Agustus 2025, mereka akan turun tangan membereskan semua kerusakan dari Tengah hingga Timur. Tapi, Oktober sudah mendekati akhir, perusahaan dengan penghasilan paling gede itu malah tak menunjukan gerak serius. Janjinya ternyata palsu.
Burhanuddin, sang kepala daerah menyimak dengan baik semua suara kegelisahaan itu. Ia tahu, keresahan wajib diutarakan. Maka, ketika tujuh wakil warga Timur dan Tengah itu meminta agar ia menekan pihak perusahaan yang ditunjuk untuk segera melakukan perbaikan jalan sesuai titik pembagian wilayah kerja, mantan pejabat di Pemprov Sultra itu sigap menyanggupi. Otoritas itu ada di tangannya.
“Saya akan komunikasi dan mendesak perusahaan mewujudkan janjinya. Saya pastikan mereka mengerjakan titik yang sudah disepakati,” janji Burhanuddin. Di Kabaena, diantara beberapa pemimpin di Bombana, barulah lelaki berkaca mata ini yang diyakini bahwa perkataannya selalu bisa terwujud, bukan sekadar citra.
Dulu, ketika jadi Pj Bupati, ia berjanji menjadikan pulau itu diterangi listrik 24 jam. Itu terbukti. Saat ia bilang akan mengaspal berkilo-kilo jalan lingkar, juga bukanlah pepesan kosong. Tanpa berganti tahun, tiba-tiba belasan kilometer jalan mendadak menghitam. Meski memang belum sampai ke wilayah Tengah dan Timur Kabaena, karena ia keburu ditarik, sebelum akhirnya kembali ke Bombana sebagai pilihan rakyat. Jadi, jangan heran jika janji Pa Bur pasti diyakini jika itu soal Kabaena.
“Kalau perusahaan tidak mau kerja, kami yang ambil alih. Nanti Pemda dalam hal ini Dinas PUPR akan menurunkan alat untuk melakukan perbaikan infrastruktur jalan. Tidak usah ragu, saya mencintai pulau ini dengan segenap jiwa raga saya. Meski saat ini tengah ada efisiensi anggaran, Kabaena tetap kita prioritaskan,” Burhanuddin menegaskan komitmennya.
Obrolan konstruktif itu tuntas satu jam. Tak ada ketegangan, semua menerima dan diakhiri salaman dan foto-foto. Tujuh wakil masyarakat Tengah dan Timur itu pamit, pulang membawa harapan bahwa tak sampai sebulan lagi, setidaknya sebelum tahun berganti, mereka juga bisa merasakan cinta dari Bur-Yani.
Tapi diam-diam, Dinas PU PR Bombana sebenarnya sudah mulai bergerak. Alat-alat berat telah disiapkan untuk digeser ke Tengah dan Timur. Jika memang TMS tetap saja abai terhadap komitmennya, tapi panen duit dari Tanah Kabaena maka tak ada cara lain. Biar PU PR Bombana yang turun tangan. Semua demi rakyat.(*)