Keistimewaan Puasa

Oleh: Makmur Ibnu Hadjar

79

 

Makmur Ibnu Hajar

Bagi kita yang sedang melaksanakan ibadah puasa, hakekat puasa yang kita
laksanakan itu bukan untuk kita, tetapi untuk Allah SWT. Sebuah hadist qudsi yang sangat terkenal menerangkan hal tersebut, bahwa Allah berfirman; “Puasa itu untuk-KU, dan Akulah yang langsung membalasnya”. Renungan kita selanjutnya adalah, dari sebuah
pertanyaan, apakah keistimewaan puasa itu, sehingga Allah sendiri yang langsung membalasnya. Sisi lain keistimewaan ibadah puasa, yang tidak ditemukan pada ibadah lainnya adalah amalan yang sangat pribadi, ia berada antara “hamba dengan Tuhannya”.

Tidak seorangpun manusia yang tahu bahwa manusia si A sedang berpuasa atau tidak sedang berpuasa. Tidak seorangpun tahu apakah anda menelan air ketika sedang berkumur. Yang mengetahui hanya pelaku puasa dan Allah SWT. Robert Frager, Ph.D (seorang muallaf Amerika, Guru Besar California University, Berkeley, Presiden Tarekat Jerrahi Order California- memperdalam tasawuf di Istambul), menggambarkan keistimewaan serta manfaat ibadah puasa itu, dari sisi tasawuf kontemporer.

Menurut Frager, bahwa keuntungan puasa itu adalah Allah SWT memberi pahala kepada aktivitas puasa itu secara langsung, atau bahkan Allah SWT yang Maha Tinggi menjadi balasan atas puasa kita. Keuntungan selanjutnya yang
didapatkan adalah puasa mampu melemahkan bahkan menundukkan “nafs” (hawa nafsu). Nafs yang memiliki kecendrungan mendorong kita untuk berfikir dan bertindak mencari mudahnya sesuatu, mencari yang nyaman dan nikmat secara jasmani dan atau nyaman secara kejiwaan.

-IKLAN-

Nafs tidak memberi ruang kepada kita untuk mencari kebenaran, untuk berempati kepada sesama manusia, untuk menjadi pemaaf dan untuk tegar memelihara kesabaran.

Dengan kehadiran puasa, yang dilaksanakan dengan ihlas, maka semua dorongan-dorongan nafs itu, bisa dikendalikan, dan bahkan bisa ditaklukkan, menjadi suatu potensi ke-Ilahian. Potensi ke-Ilahian tersebut seperti menjadi sabar (Allah Maha Sabar), pemaaf (Allah Maha Pemaaf) dan empati yang tinggi kepada sesama manusia, yakni ringan mengulurkan tangan, untuk meraih tangan dhuafa, tangan anak yatim, tangan fakir miskin, dalam jalinan kasih kemanusian.

Sebaliknyanya jika kehidupan seseorang dikuasai oleh nafs, maka lazimnya ia segera bertindak memenuhi kehendak nafs, selanjutnya kehendak demi kehendak akan datang silih berganti, terus menerus minta dipenuhi, tidak memiliki batas kepuasan, sampai kepada puncak klimaks yaitu nilai-nilai kemanusian seseorang runtuh, setara hewan.

Kecenderungan manfaat puasa lainnya adalah akan membangkitkan ingatan kepada Allah SWT, dan sesungguhnya fungsi banyak mengingat Allah SWT (zikir), akan memberikan ketenangan dan kestabilan jiwa. Dalam konteks puasa dan kaitannya dengan mengingat Allah, bukan saja dalam ranah formalis meverbalkan ke-Esaan, ke-Besaran, ke-Sucian dan seluruh sifat-sifat Allah yang maha agung (al Ashmaul Husna), akan tetapi puasa berfungsi sebagai istrumen, untuk menolak ajakan naluri kita untuk makan – minum (siang hari),
berkata bohong, mengambil apa yang menjadi hak orang dan atau hak negara (korup), maka pada saat yang sama, kita memiliki kesempatan untuk mengingat Allah SWT, dan pada saat itu kita akan berkata bahwa saya tidak akan makan – minum, berkata bohong, mengambil apa
yang menjadi hak orang dan atau hak negara, karena Allah. Maka puasa dalam konteks ini, esensinya adalah istrumen zikir, karena puasa mendorong proses internalisasi serta penghayatan kehadiran Allah pada setiap tarikan napas kita.

Ketika kita berbuka puasa, kita
mengalami momen rohani yang amat dalam, resonansisanya menggetarkan jiwa kita. Disini secara spiritual terungkap bahwa kita berpuasa untuk Allah bukannya untuk mendapatkan
konpensasi yang bersifat duniawi. Wallahuallam bissawab*.

 

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU