PT BBS di Kabaena Diduga Serobot Lahan Warga

142
Jalur jalan yang diduga untuk hauling perusahaan PT BBS di Desa Pongkalaero diduga menyerobot lahan kebun warga. Empat pohon jambu mete yang siap panen dirobohkan tanpa izin demi memuluskan rencana perusahaan. FOTO :IST

 

KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Baru juga hendak memulai produksi, perusahaan pertambangan berbendera PT Bakti Bumi Sulawesi (BBS) di Desa Pongkalaero, Kabaena Selatan, Bombana sudah membuat hati warga terluka. Kabarnya, demi memuluskan rencana membangun jalan hauling, tanah warga diserobot. Empat pohon jambut mete yang siap panen, dirobohkan tanpa izin dari pemilik.

Sang pemilik bernama Hasmina. Dua hari lalu ia mendapatkan informasi jika kebunnya dilintasi alat berat yang kemudian merebahkan tanaman miliknya. Ia makin uring-uringan, karena mendadak didatangi perwakilan perusahaan yang mengantarkannya uang senilai Rp25 juta. “Ini bukan soal uang, tapi mereka sama sekali tidak menghargai orang. Martabat saya direndahkan dengan cara seperti ini,” protes perempuan dengan embel-embel Hajjah di depan namanya.

Mantan Kepala SD di Baliara, Kabaena Barat ini mengaku tidak rela dengan cara-cara tak beradab yang dilakukan perusahaan tersebut. Baginya, menyerobot lahan orang tanpa izin lebih dulu, lalu disodori duit, itu sama saja penghinaan. Hasmina mengaku tidak bisa menerima tindakan tersebut. Ia pun mengutus kerabatnya untuk menutup kembali jalur jalan yang sudah dibuat perusahaan.

“Pihak perusahaan memang sudah pernah menyampaikan ke saya, meminta agar lahan saya dibebaskan. Tapi saya menolak karena tanaman jambu mete saya itu produktif. Harga yang ditawarkan juga tidak sesuai,” kata perempuan yang sejak Desember 2025 lalu purna tugas sebagai pegawai negeri ini. Ternyata, karena permintaan tersebut ditolak, malah ia diperlakukan sewenang-wenang.

Hamsina menjelaskan, saat ini jalur tersebut sudah ia tutup kembali menggunakan aneka batang pohon yang diruntuhkan BBS di lahan miliknya. Katanya, ia akan menuntut secara hukum jika pihak perusahaan tidak punya itikad baik untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara bermartabat. Ia mengaku sangat kesal karena diperlakukan sewenang-wenang. Ia menduga, BBS berani melakukan itu karena ada pembesar wilayah yang berdiri di belakangnya.

Begitu tahu lahannya diserobot, sang pemilik lahan mengutus kerabatnya untuk memalang jalur tersebut sembari menunggu itikad baik perusahaan menyelesaikan masalah. FOTO:IST

 

Sementara itu, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT BBS, Frans Panjaitan yang dikonfirmasi terkait hal ini membantah jika jalan yang dibuka tersebut untuk kepentingan hauling tapi jalan tani. “Terkait kepemilikan, saat ini perusahaan sedang mendalami terkait status lahan-lahan tersebut,” katanya lewat pesan singkat yang dikirim ke redaksi, Selasa (14/7).

Frans menambahkan, khusus jalan yang dimaksud, pihaknya mengaku menerima informasi dari pihak lain jika itu sudah dibebaskan, makanya pihaknya berani melakukan pembersihan jalur. Rupanya, setelah didalami, ternyata masih berstatus milik orang. “Kami masih mendalami hal ini,” tukasnya.(abi)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.