KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Sudah bukan rahasia lagi jika tiap kali masa seleksi penerimaan anggota Polri tiba, selalu ada isu miring yang mewarnai perjalanan rekrutmen calon anggota Bhayangkara tersebut. Kabar terkait orang dalam yang bisa membantu kelulusan, transaksional hingga akuntabilitas yang diragukan. Tapi Polri menegaskan komitmennya untuk mencari putra putri terbaik bangsa menjadi anggota kepolisian dengan transparan dan bersih.
Di Polda Sultra, hal tersebut ditandai dengan penandatanganan pakta integritas dan pengambilan sumpah panitia, peserta, serta orang tua/wali dalam rangka penerimaan terpadu anggota Polri Tahun Anggaran 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Dachara Polda Sultra, Selasa (31/3/2025), dan dipimpin langsung oleh Wakapolda Sultra, Brigjen Pol. Gidion Arif Setyawan yang didampingi Ketua Pelaksana yakni Karo SDM Polda Sultra, Kombes Pol Arief Fitrianto, serta pejabat utama (PJU), panitia seleksi, peserta calon siswa (casis), serta orang tua/wali.
Dalam kesempatan itu, Wakapolda menyampaikan arahan Kapolda Sultra terkait pelaksanaan proses seleksi dan rekrutmen anggota Polri yang menekankan prinsip bersih, transparan, akuntabel, dan humanis. Ia menjelaskan, penerimaan terpadu anggota Polri Tahun Anggaran 2026 mencakup seleksi akademi kepolisian (Akpol), bintara, dan tamtama. Sistem terpadu tersebut merupakan langkah strategis untuk menciptakan proses rekrutmen yang lebih terintegrasi dan efisien, sekaligus menjamin standar kualitas yang sama dalam menjaring calon terbaik dari seluruh lapisan masyarakat.
“Penandatanganan pakta integritas dan pengambilan sumpah ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi bentuk komitmen bersama bahwa seluruh proses seleksi dilaksanakan secara bersih dan berintegritas,” ujar Gidion. Ia menegaskan, tidak ada ruang bagi praktik-praktik yang mencederai integritas, seperti percaloan, korupsi, maupun bentuk penyimpangan lainnya.
Polri, kata dia, harus mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan siap mengabdi secara profesional kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Proses seleksi penerimaan anggota Polri memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena tidak hanya menilai aspek akademik, tetapi juga kondisi fisik, kesehatan, psikologi, kepribadian, hingga integritas moral setiap peserta.
“Setiap tahapan seleksi harus dilaksanakan secara objektif, ketat, dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa Polri membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental serta memiliki visi untuk menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks ke depan.
Sementara itu, kepada orang tua dan wali, ia mengimbau agar memberikan dukungan positif kepada anak-anaknya tanpa terpengaruh janji kelulusan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. “Jika menemukan hal yang mencurigakan, segera laporkan kepada panitia atau pengawas,” ujarnya.
Ia juga menegaskan kepada seluruh panitia agar menjalankan tugas secara profesional dan berintegritas serta menghindari segala bentuk penyimpangan sekecil apa pun. Hal serupa disampaikan kepada unsur pengawas, baik internal maupun eksternal, untuk memastikan seluruh rangkaian seleksi berjalan sesuai ketentuan.(red)