BOMBANA, LENTERASULTRA.COM-Seteru di tubuh Badan Amil dan Zakat Nasional (Baznas) Bombana ternyata bukan sekadar kabar angin. Lembaga yang harusnya sibuk mengumpulkan dan menyalurkan dana ummat ke para penerima yang layak kini sedang perang dingin. Kursi Ketua Baznas digoyang. Empat Wakil Ketua berkongsi melengserkan Abdul Azis Baking. Upaya kudeta itu sudah dimulai bahkan sejak awal kelimanya dilantik. Mosi tidak percaya disebar, lapor ke pemerintah daerah hingga meminta Kanwil Kementerian Agama Sultra ikut campur.
“Itu benar (upaya kudeta). Alasannya, menurut mereka saya ini arogan dan tidak transparan. Situasi ini terjadi bahkan sejak awal-awal kami menjabat,” aku Abdul Azis Baking, Ketua Baznas Bombana saat menghubungi lenterasultra.com, Sabtu (28/3). Padahal, kata Azis Baking, terpilihnya ia menjadi ketua juga karena didukung koleganya yang lain. Katanya, seusai mereka terpilih, dua rekannya memilihnya, sedangkan dua lainnya juga mengajukan diri jadi ketua.
“Posisinya saat itu saya tiga suara, yang lain satu dan satu. Eh, belakangan mereka malah berkongsi meminta saya mundur dan bahkan mengadu ke Pemda dan Kemenag agar dilakukan pemilihan ulang. Ini jelas bertentangan dengan UU Nomor 23 Tahun 2011 dan PP Nomor 14 Tahun 2014. Mekanismenya tidak seperti itu,” jelas Azis Baking. Empat koleganya itu merasa jika kepemimpinannya arogan dan tak transparan.
Arogan yang diklaim kawan-kawannya itu bermula saat mereka menggelar pleno diawal-awal kepengurusan. Saat itu, rapat meminta agar sisa anggaran periode sebelumnya digunakan untuk kepentingan lain. “Padahal, sudah ada hasil rapat sebelumnya bahwa itu untuk perbaikan kantor termasuk melengkapi beberapa kebutuhan. Malah mau digunakan berbeda. Kita menghargai hasil keputusan yang sudah ada. Eh, saya dianggap arogan,” jelas mantan Kantor Kementerian Agama Bombana ini.
Soal ruang kerja, kata Azis Baking juga dipersoalkan. Kasus lainnya adalah pergantian Sekretaris Baznas. Jika Ketua Baznas tetap mempertahnkan sekretaris saat ini karena kinerjanya baik, yang lain ingin mengganti. Semua itu menjadikan situasi kebatinan staf juga terganggu karena di jajaran komisioner Baznas sudah mulai tak kompak. Beberapa program kerja tersendat, termasuk salah satunya bekerja sama dengan pihak bank untuk menerbitkan aplikasi QR Code, agar masyarakat bias lebih mudah menyalurkan infaknya. Tapi semuanya macet gara-gara komisioner yang membidangi hal ini menolak bekerja sama.
“Kami sudah pernah bertemu dan dimediasi Pemda, bahkan sampai ke Baznas Sultra. Mereka menuntut pemilihan ulang ketua. Saya prihatin dengan lembaga ini. Kita ribut urusan jadi ketua, sedangkan tugas pokok kita sebagai badan amil malah tak berjalan. Ini di Baznas 75 persen ibadah, untuk ummat. Malah sibuk dengan kepemimpinan. Kalau mau adil. Bekukan saja semua, dan angkat yang lain. Tidak bisa berhenti satu, diangkat yang lain. Itu namanya belah bambu,” papar mantan calon Wakil Bupati Bombana tahun 2011 tersebut.
Menukil dari PP Nomor 14 Tahun 2014, disebutkan bahwa pimpinan Baznas Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh bupati/walikota setelah mendapat pertimbangan dari Baznas Nasional. Di ayat 2, pasal 43 itu ditekankan bahwa pengangkatan dan pemberhentian pimpinan Baznas kabupaten/kota diberitahukan kepada direktur jenderal yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang zakat pada kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama yang tembusannya disampaikan kepada kepala kantor wilayah kementerian agama provinsi dan kepala kantor kementerian agama kabupaten/kota.
“Jadi, jelas ya. Urusan pergantian di Baznas itu, harus atas izin Dirjen Kemenag. Tidak bisa serta merta bupati. Mohon maaf, ada di internal kami ini yang merasa dekat sekali dengan kekuasaan. Jadi, dia mau ganti saya karena punya akses dan pernah berjuang. Baznas ini jangan dicampur-campurkan politik, ini urusan ibadah,” beber Azis Baking sembari menyebut satu nama koleganya yang dianggapnya sebagai motor kudeta terhadapnya.
Terkait kinerja, Azis Baking mengaku bahwa program penyaluran zakat, infaq dan sedekah (ZIS) di Baznas masih berjalan. Permohonan pemberian dari para mustahik juga terus masuk sekeretariat, dan masih diproses. Hanya yang terkendala saat ini adalah inovasi untuk mencari potensi ZIS lain, selain dari para pegawai.
Sementara itu, dua komisioner Baznas lain yang dihubungi redaksi enggan memberikan keterangan terkait kisruh Baznas Bombana. Muhammad Subur, misalnya hanya membaca pesan yang dikirimkan lewat aplikasi hijau, dan tak merespon apapun. Sedangkan Andi Abdullah, justru mempertanyakan sumber informasi media ini terkait Baznas. “Dari mana informasinya Pak? Nanti kita datang saja ketemu Ketua Baznas kalau sudah masuk kantor, baru kita tanyakan,” balasnya.
Seperti diketahui, belum juga setahun berjalan usai dilantik Juli 2025 lalu, jajaran komisioner Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bombana dikabarkan sudah pecah kongsi. Kursi Ketua Baznas, Abdul Azis Baking digoyang dan didera mosi tidak percaya oleh empat koleganya. Puncaknya, sebelum Ramadan lalu, nyaris saja terjadi adu jotos antara para pengurus ini. Penyaluran Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS) kini macet. Baznas Bombana saat ini diketuai Abdul Asis Baking. Ia adalah mantan Kepala Kantor Kemenag Bombana. Sedangkan empat lainnya adalah Andi Muh. Jupri, Hasirun, Mohammad Subur dan Andi Abdullah.(abi)