Enam Kali Gagal Seleksi, IPK Sampai 4,0

Kisah-kisah Para Penerima Beasiswa ASR

69
Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka didampingi Ketua Yayasan Pendidikan ASR, Arinta Nila Hapsari menyerahkan bantuan beasiswa S1 kepada salah seorang penerima yang lolos seleksi bersama 149 orang penerima lainnya. FOTO :IST

KENDARI, LENTERASULTRA.COM-Malam sudah jelang larut, saat seorang pria bernama Royan Abdillah tuntas menyelesaikan tugasnya, mengajar di Pondok Pesantren Al Manshurin, Kendari, Kamis (7/5) lalu. Kala menengok penunjuk waktu di gawainya, sudah pukul 21.00 Wita. Di saat bersamaan, Ponselnya itu terlihat ada panggilan yang disusul pesan singkat yang tak sempat ia angkat dan dibaca karena sibuk mengajar..

Namun pandangan mahasiswa Jurusan Akuntasi Fakultas Ekonomi, Universitas Halu Oleo ini tertuju pada sebuah icon grup WA yang baru. Seseorang dengan nomor tidak tersimpan di ponselnya memasukan Namanya di grup tersebut. Penasaran, mahasiswa semester enam ini lalu mempelototi grup tersebut. Royan begitu terkejut ketika tahu, grup barunya itu berisi nama-nama kelompok penerima beasiswa dari Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka.

“Nama grupnya, BDP ASR Prestasi,” cerita Royan kepada lenterasultra saat ditemui di rumah jabatan gubernur Sultra Jumat pagi, 22 Mei 2026. Sambil mengutak atik gawainya, Royan lalu memperlihatkan grup baru di hand phonenya. “Ini grupnya,” sambung Rian. Amatan lenterasultra, profil grup penerima beasiswa di gawai Royan bergambar logo Yayasan ASR yang sudah didesain dengan tulisannya, Be ASR Yayasan Asmar Abadi.

Di bawah profil ada dua tulisan. Pertama BDP ASR Prestasi. Kedua, bantuan Pendidikan Yayasan ASR. Tulisan kalimat didua grup itu semuanya memakai huruf kapital. Antara dua tulisan di grup tersebut diantarai jumlah anggota grup sebanyak 51 anggota. Peserta grup terdiri dari satu admin dan 50 mahasiswa penerima beasiswa prestasi.

Royan termasuk salah satu nama di dalam grup penerima beasiswa. Dia menjadi salah satu penerima beasiswa dari Yayasan ASR melalui jalur prestasi. Alumni Pondok Pesantren Gading Mangu, Yayasan SMA Budi Utomo, Jombang, Jawa Timur ini mengaku terkejut dan tidak menyangka namanya bisa masuk menjadi salah satu penerima beasiswa. “Yang mendaftar banyak masalahnya. Lebih 3.000 orang. Alhamdulillah bisa lolos,” katanya.

Royan mengaku, begitu dia tahu menjadi salah satu penerima beasiswa, Ia langsung mengubungi orang tuanya. Ibunya, yang lagi dipercaya negara menjadi pegawai di Kementerian Kesehatan di Jakarta yang pertama dihubungi. Setelah itu, bapaknya yang tinggal bersamanya di Kendari. Kedua orang tuanya itu merasa bahagia dan bersukur anak sulung dari tiga bersaudara itu jadi penerima beasiswa melalui jalur prestasi.

Selain untuk mahasiswa S1, Yayasan ASR juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa s2 dan S3 dengan nominal yang cukup besar. FOTO :IST

Mahasiswa angkatan 2023 ini mengaku dirinya ikut seleksi beasiswa ASR hanya coba-coba. Pria kelahiran 9 April 2003 ini bercerita awal mula mendaftar sebagai calon penerima beasiswa. “Saya dapat info penerimaan beasiswa dari gubernur Sultra itu dari teman saya yang punya keluarga di Pemprov Sultra. Saya dikirimkan pamflet berisi syarat-syarat pendaftaran,” katanya.

Dari sini Royan mulai berihktiar. Semua persyaratan dilengkapi. Diantaranya, Kartu Hasil Studi (KHS), surat keterangan tidak sedang menerima beasiswa dari tempat lain, kartu keluarga dan dokumen lainnya. “Untuk KHS saya setor dua semester terakhir yakni semester 3 dan 4. Alhamdulillah Indeks Prestasi Kumulatif di dua semester ini 4.0,” sambungnya. Begitu lengkap, Dia kemudian menyetornya sendiri di secretariat panitia, kantor gubernur.

Kurang lebih tujuh bulan menunggu, usahanya itu membuahkan hasil. Dia menjadi salah satu penerima beasiswa dari Yayasan ASR. Royan mengaku, duit sebanyak 7,5 juta tersebut akan diperuntukan untuk membiayai berbagai kebutuhan kuliahnya. Diantaranya buat pembayaran UKT atau Uang Kuliah Tunggal.

Penerima lainnya, Rizky Sundari tercatat sebagai salah satu penerima beasiswa dari Yayasan ASR. Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari ini mengetahui namanya menjadi penerima setelah seseorang memasukan nomornya didalam grup baru di gawainya. Nama grupnya, BDP ASR Umum. “Akhir April lalu saya di invite. Begitu saya buka dan baca ternyata grup penerima bantuan beasiswa. Saya terkejut dan langsung bersukur,” cerita Rizky.

Mahasiswi Jurusan Manajemen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan ini langsung menghubungi kedua orang tuanya. Dia memberi kabar kepada ibu dan bapaknya, jika dirinya lolos menerima beasiswa. Rizky mengaku senang dan bangga menjadi salah satu penerima. Maklum selain menyisihkan banyak pendaftar, beasiswa dari Yayasan ASR ini merupakan bantuan Pendidikan pertama yang didapatkan selama dia menempuh Pendidikan di jenjang Perguruan Tinggi.

Menurut Rizky, sejak  2022 masuk kuliah, dia sudah lima sampai enam kali mengikuti seleksi calon penerima beasiswa. Mulai dari beasiswa yang ditawarkan Pemda Konawe daerah asalnya, beasiswa desa, beasiswa dari universitas tempatnya kuliah saat ini hingga beasiswa yang ditawarkan berbagai Perusahaan tambang. Hasilnya, dia selalu belum mendapatkan rezeki sebagai penerima. Namun begitu, ikhtiarnya tidak pernah berhenti.

“Lima sampai enam kali mencoba daftar beasiswa. Mungkin karena saya tidak punya orang dalam sehingga tidak pernah lolos. Allah SWT baru memberikan saya rezeki beasiswa di era Gubernur Andi Sumangerukka melalui Yayasan ASR. Inipun murni saya dapatkan dengan usaha sendiri tanpa melalui orang dalam,” kata Rizky.

Rizky bilang dengan profesi orang tuanya sebagai petani, duit beasiswa sebesar 7,5 juta dari Yayasan ASR sangat membantu untuk biaya kuliahnya. Duit beasiswa itu akan diperuntukan untuk biaya penelitian, membayar UKT, biaya persiapan KKN dan memenuhi kebutuhan skripsinya serta membeli berbagai kebutuhan kuliah lainnya. “Insya Allah akan dimanfaatkan sebaik-baiknya buat biaya kuliah demi meringankan beban dan tanggung jawab orang tua,” katanya.

Dewi Ayu juga tercatat sebagai salah satu mahasiswa dari Kabupaten Buton Tengah yang mendapatkan beasiswa. Mahasiswi Jurusan Oseonografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini tidak menyangka namanya menjadi penerima beasiswa ASR. “Saya daftar pertama karena ada teman-teman dari paguyuban memberi informasi di grup WhatsApp,” cerita Dewi Ayu. Usaha mahasiswi semester enam ini ternyata tidak sia-sia. Dia menjadi satu dari 50 orang penerima beasiswa kategori umum.

Kata Dewi Ayu, kabar jika dia menerima beasiswa ASR dari jalur umum setelah nomor kontaknya dimasukkan dalam grup WhatsApp awal Mei 2026 lalu. Dewi mengatakan duit beasiswa itu akan ditransfer langsung di nomor rekening yang telah disetor bersama berkas-berkas yang disetor saat pemberkasan.

Duit ini sambung Dewi akan digunakan untuk membantu dan mengurangi beban orang tuanya, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru ngaji dan pengolah jambu mete di Buton Tengah, untuk membiayai kuliahnya. “Sangat berguna pak. Apalagi ditengah kondisi ekonomi saat ini. Uangnya akan digunakan untuk biaya kuliah,” ungkapnya.(*)

Penulis : Adhi

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU