Empat Desa Gugur, Muna Sisakan Kampung Tenun Masalili Dalam Ajang Desa Wisata Kemenparekraf RI

582

 

Desa Masalili memiliki kerajinan tenun yang telah mendunia. Bupati Muna mendukung pemgembangan Masalili menjadi Desa Wisata. Masalili kini menjadi satu – satunya wakil Muna yang masuk 300 Desa Wisata Kemenparekraf dalam ajang ADWI 2022. Foto : Ode

 

RAHA, LENTERASULTRA.COM – Desa Wisata Kampung Tenun Masalili, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara berhasil masuk nominasi 300 besar anugerah desa wisata Indonesia (ADWI) tahun 2022 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Krearif RI. Masalili menjadi satu – satunya wakil Muna yang bertahan.

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Muna, Darwi mengatakan, daerah mengirim lima desa wisata dalam ADWI tahun 2022. Empat desa lainnya yakni Desa Lakarama, Kecamatan Towea dengan objek wisata pantai Bungin Pinungan, Desa Lakarinta dengan objek wisata pantai Meleura, Desa Lohia dengan objek wisata Danau Napabale dan Desa Liangkabori dengan objek wisata Gua Prasejarah Liangkabori, masing – masing di Kecamatan Lohia tidak masuk dalam nominasi 500 besar.

“300 besar itu pengumuman kedua setelah 500 besar. Hanya Desa Wisata Kampung tenun Masalili yang bertahan,” jelasnya.

-IKLAN-

Darwi menambahkan, Kemenparekraf akan kembali merilis nominasi 100 besar dalam dua hari kedepan. Ia berharap Masalili bisa terus melaju hingga babak akhir yakni pengumuman 50 desa wisata terbaik nasional. “Kita berharap sampai 50 besar karena ini ajang bergengsi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, kampung tenun Masalili menawarkan keunikan budaya menenun (demooru) yang masih terus dijaga oleh masyarakat setempat. Desa yang terletak di Kecamatan Kontunaga itu memiliki sentra kerajinan tenun yang tersebar dihampir semua rumah warga. Tenun Masalili juga kini telah mendunia dan mulai mewarnai industri fashion tanah air.

“Keunikannya Masalili hampir 100 persen warganya terutama perempuan bisa menenun. Sehingga layak disebut Kampung Tenun,” paparnya.

Kendati demikian, tantangan Desa Masalili, kata Darwi ialah belum memiliki fasilitas homestay untuk wisatawan. Selain itu, Masalili juga belum memiliki kepengurusan kelompok pemuda sadar wisata (Pokdarwis) yang memiliki legalitas di Pemerintah Daerah.

(Ode)

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU