Dokter Spesialis Paru RS Bombana, Covid-19 Penyakit 1.000 Wajah, Punya Berbagai Gejala

2.915
Dokter Wahyudi
Dokter Paru RSUD Bombana, domr Wahyudi, Sp.P

BOMBANA, LENTERASULTRA.COM– Pandemi Covid-19 sedang melanda  berbagai dunia, termasuk di Indonesia. Wabah ini membuat penduduk dunia harus lebih waspada saat beraktifitas terutama di luar rumah. Selain mudah menular, Covid-19 merupakan penyakit seribu wajah, karena gejala yang ditimbulkan bisa menyerupai penyakit-penyakit lain.

Penyakit Covid-19 pertama kali muncul dengan keluhan sesak napas, batuk, dan demam. Namun, penyakit ini semakin berkembang dengan berbagai gejala baru yang tidak boleh diremehkan. “Ciri-ciri seseorang terkena Covid-19, pada awal penemuan hanya terdiri dari tiga (trias). Demam, batuk serta sesak napas yang semakin hari semakin memburuk,” kata dokter paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bombana, dr Wahyudi, Sp.P.

Namun dengan berbagai penelitian dan fakta dilapangan, saat ini banyak orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, mengalami berbagai macam gejala yang tidak khas. Seperti muntah disertai dengan diare yang tidak kunjung hilang, badan yang selalu lemas, hilangnya indra pengecap dan pencium. Wahyudi bilang, pada umumnya, gejala infeksi virus Corona terbagi menjadi 3 kategori. Yakni,  ringan, sedang, dan berat. Setiap penderita infeksi virus Corona-19, dapat merasakan gejala yang berbeda-beda tergantung usia, daya tahan tubuh, dan kondisi kesehatannya secara menyeluruh.

BACA JUGA:  Tujuh Anggota DPRD Buteng yang Positif Covid-19 Jalani Isolasi Mandiri di Rumah

Infeksi virus Corona lanjut Wahyudi, dapat menimbulkan gejala yang amat beragam. Sebagian besar penderitanya mengalami gejala yang bersifat ringan. Bahkan, ada orang yang terinfeksi virus ini, namun tidak menunjukkan gejala apa pun, atau dikenal dengan sebutan Orang Tanpa Gejala (OTG).

-IKLAN-

Menurut Wahyudi, banyak orang mengaku heran pada saat dilakukan swab massal, didapatkan hasil sebagai penderita Covid-19 yang terkonfirmasi (positif). Padahal yang bersangkutan tidak mempunyai gejala khas untuk Covid-19. “Ini menjadi suatu dilema tersendiri bagi pasien tersebut maupun keluarga disekitarnya,” sambungnya

BACA JUGA:  Baru Dapat Asimilasi, Empat Residivis di Buton Kembali Ditangkap Polisi  

Kata Wahyudi, persoalan ini menjadi penyebab, mengapa Covid 19 ini sulit untuk diputus rantai penularannya. Bayangkan, seseorang bekerja seperti biasa sedangkan dia adalah carier (pembawa) Covid-19. “Disinilah letaknya kenapa pemerintah gencar-gencar menerapkan istilah 3 M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir). Jika 3 M diterapkan dalam kehidupan sehari-hari selama massa pandemi Covid-19, maka mata rantai penyebaran Covid-19 ini, mudah diputus ,” ungkapnya. (Ads/Adhi)

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun

Pesan Redaksi:
Mari bersama-sama mencegah penyebaran Covid-19. Lenterasultra.com mengajak seluruh pembaca ikut mengkampanyekan protocol kesehatan di setiap aktifitas sehari-hari. Ingat pesan ibu, pakai masker, selalu mencuci tangan dan tetap menjaga jarak.

Komentar Facebook

-IKLAN-

Get real time updates directly on you device, subscribe now.