China Butuh Serabut Kelapa dari Sultra untuk Bahan Jok Mobil Mewah

1.531
Gubernur Sultra Ali Mazi bersama ketua tim penggerak PKK, Agista Ariyani saat meresmikam ekspor perdana serabut kelapa di Pelabuhan New Port, Bungkutoko, Kendari, Selasa (7/7/2020). Foto Adhi

KENDARI, LENTERASULTRA.COM– Satu lagi komoditas asal Sulawesi Tenggara (Sultra) yang memiliki nilai jual hingga ke manca negara. Barang tersebut adalah serabut kelapa. Sumberdaya alam hayati asal Bumi Anoa ini, kini diminati negara China sebagai bahan pembuatan sofa, jok mobil mewah hingga matras dan springbad.

Kebutuhan serabut kelapa ini mulai dikirim ke negeri Tirai Bambu itu. Sebagai tahap awal dikirim sebanyak 18 ton melalui pelabuhan New Port, Bungkutoko, Kota Kendari. Ekspor perdana serabut kelapa dari Sultra ke China diresmikan Gubernur Sultra, Ali Mazi, Selasa (7/7/2020). Seremoni pengiriman barang ini dihadiri Direktur Utama Pelindo IV, Makassar, Prasetyadi Rasyid Yadi, Kepala Balai besar karantina Pertanian Makassar, Andi Pangerang Musa Yusmanto, Kapolda, Irjen Polisi Merdisyam serta unsur Forkopimda.

Ekspor serabut kelapa ke Wheifang China dilaksanakan oleh PT Weida Indocoir Prima dan difasilitasi Kementerian Pertanian melalui karantina Pertanian Kendari. Eskpor perdana ini sebanyak 18 ton. “Ekspor komoditas serabut kelapa ini mendatangkan angin segar bagi ekspor nonmigas Sultra. Sebelumnya Sultra memiliki komoditas ekspor unggulan ekspor, Cocoa Butter, namun adanya pandemi Covid 19 ini membuat produksi komoditas tersebut terhenti,” ujar Kepala Karantina Pertanian Kendari, Prayatno Ginting.

Menurut Ginting, selain Cocoa Butter, wilayah Sultra memiliki beberapa komoditas yang dapat dijadikan komoditas unggulan diantaranya kopra, kakao, beras, jambu mete, cengkeh, jagung, lada, kemiri dan sarang burung walet. “Namun saat ini komoditas dari Sultra ini lebih banyak di kirim di pasar domestik terlebih dahulu dan baru diekspor dari wilayah lain sebagai contohnya jambu mete,” tambahnya.

BACA JUGA:  Wali Kota Kendari Antar Langsung Bantuan Sembako ke Rumah Warga

Prayatno menegaskan untuk memenuhi persyaratan ekspor dari negara tujuan serabut kelapa ini telah diperiksa dan dinyatakan bebas organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pemeriksaan fisik dan administrasi juga dilakukan terhadap serabut kelapa ini. Sampel yang diperiksa di laboratorium karantina tumbuhan dengan pengujian secara mikroskopis untuk mengetahui adanya OPT pada serabut kelapa ini. “Tidak ada serangga spesifik yang dipersyaratkan negara tujuan, kita hanya menjaga komoditas harus bebas dari hama gudang Necrobia rufipes atau Alphitobius spp,” jelas Prayatno.

Sementara itu, Gubernur Sultra, Ali Mazi saat melepas ekspor serabut kelapa ini berharap agar ekspor ini terus menerus berkelanjutan sehingga bisa meningkatkan pendapatan daerah. Sebagai perwakilan masyarakat di Sultra, Ali Mazi memberikan apresiasi kepada balai Karantina karena selama kepemimpinannya, sudah dua kali melakukan ekspor. “Saya sangat mengapresiasi capaian ini, dan saya berharap dengan meningkatnya kegiatan-kegiatan ekspor di Sulawesi Tenggara dapat memicu peningkatan investasi,” terang Ali Mazi.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil mengatakan bahwa wilayah Sultra ini butuh banyak dorongan agar bertambah komoditas ekspor yang bisa diekspor langsung. Karantina Pertanian Kendari mencatat hasil pertanian di sini lebih banyak di kirim ke daerah lain dan kemudian di re ekspor. Sangat disayangkan karena potensi pertanian di Sultra termasuk tinggi.

Berdasarkan data IQFAST di Karantina Pertanian Kendari di semester awal tahun 2020 tercatat lalu lintas domestik 9 produk pertanian unggulan asal Sultra sebanyak 50.157,4 ton dengan nilai Rp 861,7 miliar. Komodits tersebut masing-masing Kopra sebanyak 24.282 ton, kacang mede sebanyak 4.424 ton, kakao 1.150 ton, Jagung sebanyak 5.417 ton, cengkeh sebanyak 6.938 ton, lada sebanyak 642 ton, pala 68 ton, kemiri sebanyak 1.431 ton dan beras sebanyak 10.984 ton.

BACA JUGA:  Ditangkap Karena Miliki Sabu, Pria di Kolut Ini Ngaku Dapat Perintah dari Dalam Lapas

Jamil mengatakan ditiap unit pelaksana karantia pertanian, termasuk Kendari siap memberikan pendampingan jika ada masyarakat yang ingin melakukan ekspor produk pertanian. Layanan Klinik Ekspor di Pelabuhan Kendari New Port (KNP) akan siap menerima pengguna jasa setiap hari.
“Pendampingan Karantina Pertanian ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian untuk meningkatkan ekspor produk pertanian hingga tiga kali lipat, terlebih di masa pandemi ini sektor pertanian menjadi salah satu andalan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi Indonesia,” tutup Jamil

Sementara Irwan Ponto, Direktur Utama Weida Indocoir Prima mengatakan, serabut kelapa yang di ekspor perdana ke China berasal dari beberapa daerah di Sultra. Diantaranya berasal dari Kecamatan Kolono, Moramo Kabupaten Konawe Selatan serta beberapa kecamatan di Konawe Utara. “Untuk sementara yang kami ekspor perdana sebanyak satu kontainer,” katanya. Namun kedepannya dia akan mengupayakan bisa mengirim satu kontainer setiap harinya.

Serabut kelapa yang dikirim di tahap awal ini sebanyak 18 ton. Serabut ini dibeli dari masyarakat dengan harga Rp 5 ribu rupiah perkubiknya. Irwan mengaku, dirinya melirik bisnis tersebut karena memiliki nilai ekonomi yang sangat potensial. “Dari pada pada di bakar mendingan dikelola dengan baik, sekaligus mengelola limbah. Untuk sementara serabut kelapa ini kami pasarkan ke China,” kata Irwan Ponto.

Penulis : Adhi

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Ruangan komen telah ditutup.

error: Content is protected !!