Sawit dan Tambang Lesu, Ekspor Indonesia Turun 6,94 Persen

392

 

Ekspor Indonesia melalui jalur laut. —ist—

JAKARTA, LENTERASULTRA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, total ekspor Indonesia sepanjang 2019 sebesar USD167,53 miliar. Jumlah ekspor tersebut mengalami penurunan tajam bila dibandingkan realisasi ekspor pada tahun sebelumnya yang mencapai USD180,01 miliar.

“Total ekspor Indonesia selama 2019 sebesar USD167,53 miliar. Jika dibandingkan dengan posisi 2018 memang penurunannya lumayan tajam sebesar 6,94 persen,” terang Kepala BPS Suhariyanto dalam keterangan pers di gedung BPS, Jakarta Pusat, Rabu (15/01/2020)..

Suhariyanto menjelaskan, ekspor kumulatif nonmigas juga mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 4,82 persen menjadi USD154,99 miliar.

Dikutip dari  Asia Today.id,  Dari volume, ekspor Indonesia selama Januari-Desember 2019 meningkat 7,64 persen dibanding periode sama tahun lalu. Peningkatan volume disumbang oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 9,82 persen.

Berdasarkan golongan barang utama HS dua digit selama 2019, mayoritas ekspornya mengalami penurunan. Paling signifikan terjadi pada golongan barang alas kaki (HS 64) yang ekspornya turun 13,70 persen.

BACA JUGA:  Beri Kontribusi Poritif, Masyarakat Marombo Pantai Harap PT Bososi Beraktivitas Kembali

Kemudian lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) yang ekspornya anjlok 13,44 persen; bahan bakar mineral (HS 27) turun 9,70 persen; mesin dan peralatan mekanis (HS 84) melorot 7,41 persen; karet dan barang dari karet (HS 40) turun 5,60 persen; serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) yang juga turun 3,55 persen.

“Ada beberapa golongan barang HS dua digit yang mengalami peningkatan ekspor. Misalnya untuk ekspor besi dan baja (HS 72) naik 28,76 persen,” paparnya.

Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas Indonesia hasil industri pengolahan selama Januari-Desember 2019 turun 2,73 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2018, ekspor hasil tambang dan lainnya juga turun 15,30 persen. Sedangkan ekspor hasil pertanian naik 5,31 persen.

Penurunan ini disumbang oleh menurunnya ekspor minyak kelapa sawit. Demikian juga ekspor produk pertambangan dan lainnya yang anjlok 15,30 persen yang disumbang oleh menurunnya ekspor bijih tembaga dan nikel. Sementara ekspor produk pertanian meningkat 5,31 persen yang disebabkan oleh meningkatnya ekspor sarang burung.

BACA JUGA:  Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Izin Tambang di Laonti

“Ekspor dari sektor pertanian merupakan satu-satunya sektor yang tumbuh meskipun share-nya kecil. Ke depan tentunya kita berharap bahwa kontribusi dari sektor pertanian akan meningkat sehingga mampu meningkatkan total ekspor kita,” imbuhnya.

Adapun tujuan utama ekspor Indonesia selama periode Januari-Desember 2019 masih didominasi oleh China dengan pangsa 16,68 persen senilai USD25,85 miliar. Diikuti Amerika Serikat dengan nilai USD17,68 (11,41 persen), dan Jepang dengan nilai USD13,75 (8,87 persen).

“Ekspor ke ASEAN itu share-nya 23 persen, sementara ke Uni Eropa itu 9,24 persen. Komoditas utama yang diekspor ke China pada periode tersebut adalah batu bara, besi atau baja, dan minyak kelapa sawit,” tandas Suhariyanto. (ATN)

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Ruangan komen telah ditutup.

error: Content is protected !!