Soal Penodongan Pistol, Pimpinan Pondok Pesantren Bantah Pernyataan Letkol AF

167

 

Pimpinan pondok pesantren Ihya’ Assunnah Kolaka, Muhammad Sutamin saat memperlihatkan bukti setoran harga tanah yang dibeli ditemani dengan pengacaranya. Foto: P4

KENDARI, LENTERASULTRA.COM – Pimpinan Pesantren Ihya’ Ahsunnah, Sutamin membantah pernyataan Letkol AF terkait sengketa tanah dan penodongan pistol yang terjadi pada Kamis, 9 Januari 2019 lalu.

Pada Jumat, 10 Januari Letkol AF melakukan klarifikasi di Aula Mapolres Kolaka terkait kasus yang melibatkannya dirinya dengan orang tua Letkol AF, Mardin More terkait kasus penyekapan dan penodongan pimpinan pondok Pesantren Ihya’ Ahsunnah, Senin (13/1/2020).

Pertama, klaim Mardin More sebagai orang tua LK AF yang menyatakan bahwa dia salah satu pendiri pondok pesantren. Sutamin mengaskan jauh sebelum berdirinya pondok pesantren, telah ada tahapan pembangunann pondok yang telah dimusyawarakan.
“Itu tidak benar, Mardin More tidak ikut musyawarah. Ia belum mengikuti pengajian kami pada saat itu,” ujarnya.

Sementara perencanaan pendirian pondok pesantren telah dimusyawarakan di bulan November dan pendiriannya telah ada.

Kedua, ia kembali membantah terkait uang 100 juta yang diterima Mardin More dari Sutamin merupakan biaya pendirian pondok pesantren.

“Kepala tukang saya tahu persis bahwa tidak ada satupun barang yang ia beli,” ungkapnya.

Sutamin menegaskan pernyataannya, bahwa ketika peristiwa penyekapan itu terjadi, AF dan Mardin More memintanya untuk mengembalikan sertifikat tanah dan akan mengembalikan uang 100 Juta yang telah diterima sebelumnya.
” Apa artinya itu? Apa itu untuk biaya pembangunan pondok pesantren,” ujarnya.

Ketiga, bahwa Sutamin meminjam sertifikat untuk mencari dana di donatur. “Saya punya perjanjian dengan pihak donatur tanpa ada syarat sertifikat itu,” Katanya.

Keempat, klaim bahwa sudah tiga tahun dilakukan mediasi dan Sutarmin tidak pernah hadir. Sebelum Mardin melakukan mediasi, pihaknya mengutus saudara Hasan untuk memediasi.

Kelima, klaim Letkol AF bahwa tidak ada penodongan pistol dan pengancaman sangkur, yang ada hanyalah penunjukan dengan jari.

“Dusta yang nyata,” katanya.

Ia menjelaskan penodongan tersebut bukan hanya terjadi di pos angkatan laut, tetapi juga terjadi di depan anak santri dan disaksikan puluhan orang.

Keenam, Klaim bahwa letusan yang terjadi itu bunyi petasan, dijelaskannya bahwa posisi pos angkatan laut tidak memungkinkan untuk anak-anak bermain.

“Pos angkatan laut didepannya jalan, di sebelah Pantai Kuliner. Tidak ada perumahan, disampingnya Pos PM Angkatan Darat,” Ungkapnya

Ketujuh, klaim bahwa pelaksanaan interogasi di pos tanpa atribut. “Bohong, dia cabut pistolnya dia todongkan di kepala saya sambil gemetar lalu mencabut sangkurnya dan mengarahkan ke saya,” katanya.

“Saya lebih senang pesantren ini mereka ambil dari pada saya perjuangankan dengan dusta,” ungkapnya,” tutupnya. (B/P4)

Editor: Fiyy

Komentar Facebook