Dorong Sektor Riil, BI Sultra Kembangkan Klaster Bawang Merah

499

 

Kepala BI Perwakilan Sultra, Suharman Tabrani bersama Wakil Gubernur Sultra, Lukman Abunawas saat pertemuan tahunan BI Sultra. Foto: Doc. BI Sultra

KENDARI, LENTERASULTRA.COM – BI Sultra turut serta dalam mendorong sektor riil melalui pengembangan potensi ekonomi lokal. Pengembangan ekonomi dilakukan melalui pola pembinaan klaster UMKM yang difokuskan pada klaster yang berorientasi pada ketahanan pangan dan potensi perekonomian lokal.

Kepala Kanto Perwakilan BI Sultra, Suherman Tabrani mengatakan, beberapa klaster yang saat ini tengah dikembangkan oleh Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sultra antara lain klaster bawang merah di Kolaka Utara, pertanian organik di Buton Utara, hortikultura di Konawe Selatan, rumput laut di Wakatobi dan pengembangan tenun di Masalili, Kabupaten Muna.

“Selain itu, untuk mendorong tumbuhnya pengusaha baru di Sulawesi Tenggara, kami telah menggagas program Wirausaha Bank Indonesia (WUBI),” ujarnya.

Untuk memenangkan persaingan di industri 4.0, UMKM Sultra diberikan pelatihan UMKM go digital. Tujuannya, untuk mendorong UMKM masuk dalam pasar e-commerce dan pasar digital. Di lain sisi, sebagai bagian dari upaya untuk mendorong ekonomi syariah dan kemandirian ekonomi pesantren.

BI Sultra juga giat melakukan rangkaian edukasi dan kampanye ekonomi syariah di Sulawesi Tenggara bersama Masyarakat Ekonomi Syariah, MUI, perbankan dan pihak terkait lainnya.

“Di tengah upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra pada periode mendatang, setidaknya terdapat 2 tantangan utama yang harus kita hadapi bersama untuk dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertama, belum pulihnya secara optimal perekonomian global dan perekonomian Tiongkok yang diperkirakan masih akan mengalami perlambatan dapat memberikan dampak terhadap perekonomian Sultra mengingat Tiongkok merupakan mitra utama untuk perdagangan luar negeri di Sulawesi Tenggara. Kedua, masih belum terdiversifikasinya dengan baik perekonomian di Sulawesi Tenggara,” bebernya.

Menurutnya sektor pertambangan masih memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja ekspor dan perekonomian di Sulawesi Tenggara. Sementara serapan tenaga kerja pada sektor tersebut sangat minim. Selain itu, larangan kebijakan ekspor bijih nikel kadar rendah dapat menjadi pedang bermata dua bagi perekonomian Sulawesi Tenggara apabila tidak disikapi dengan cermat oleh seluruh pemangku kebijakan.

Penulis: Wulan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU