Manuver Flamboyan Kombes Hartoyo

3418
Direktur AMAN Center, La Ode Rahmat Apiti. (Istimewa)
KENDARI, LENTERASULTRA.COM Kasus tewasnya Randi dan Yusuf Kardawi, mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) menjadi duka bagi kalangan aktifis dan atau kalangan civil sosiety.
Kasus yang menyedot perhatian publik tersebut menguras konsentrasi publik, terutama mahasiswa serta aparat kepolisian yang menjadi sorotan dalam setiap aksi mahasiswa.
Tewasnya dua aktifis asal Muna tersebut menjadi catatan hitam aktifis mahasiswa. Gugurnya para pejuang demokrasi menjadi “injeksi” khusus mahasiswa dalam melakukan pressure dan atau perlawanan pada aparat kepolisian.
Bagi kalangan kepolisian tewasnya Randi bagaikan “musibah” dadakan. Sebab institusi ini menjadi sasaran mahasiswa dalam setiap demontrasi yang digelar.
Pihak kepolisian menyadari institusinya menjadi sasaran tembak, sehingga dengan sigap membentuk tim investigasi untuk mengusut kasus tersebut.
Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) yang telah mendeteksi akan terjadi gejolak sosial dengan peristiwa tersebut rela mengorbankan “prajurit” untuk meredam konflik.
Jalan pintas yang ditempuh yakni memutasi Kapolda Sultra dan Kasat Reskrim Polres Kendari target jangka pendek dari skenario ini yakni melempar sinyal ke publik kalau POLRI serius menangani kasus ini serta juga untuk meredam gejolak mahasiswa yang makin beringas.
Mengorbankan perwira untuk meredam konflik bagi kepolisian hal yang lumrah dilakukan akan tetapi peredaman seperti ini tidak mampu membungkam militansi mahasiswa untuk terus mengawal kasus tersebut.
Penulis yang mengikuti perkembangan kasus tersebut sempat pesimis “eksekutor” lapangan akan terbongkar apalagi muncul kesan pihak kepolisian mulai “mengaburkan” subtansi masalah dengan berbagai dalih yang kadang sulit diterima dengan akal sehat tapi publik sabar dan terus memantau setiap saat perkembangan kasus ini
Namun, di saat mahasiswa terus bergelora melakukan pressure kepada pihak kepolisian tiba-tiba publik dikagetkan dengan surat peryataan Direktur Intel Polda Sultra (KOMBES Hartoyo), Senin 4 November.
Dalam pernyaatan nya, mantan Kapolres Kolaka tersebut akan mundur sebagai anggota Polri bila sampai tanggal 7 November pelakunya tidak diungkap. Dan hari ini menjadi titik terang kasus yang gelap gulita tersebut menjadi terang benderang karena pelaku penembakan sudah terungkap.
Tapi yang menarik bagi penulis mengapa mantan Kapolres tersebut “berani” mempertaruhkan jabatannya akan mundur bila pelaku penembakan tidak terungkap. Bagi penulis ada bebera hal yang mendasari:
Pertama, kemungkinan perwira flamboyan tersebut berjuang sendiri di jajaran Polda Sultra, sehingga perlu dukungan publik makanya perlu membuat surat pernyataan mundur agar mendapat dukungan publik.
Cara-cara seperti ini tentu saja sangat “jenius’ dan bisa membaca selera publik terkait kasus tersebut dan surat pernyataan ini mendapat sambutan positif dari publik dan memberi apresiasi terkait keberanian Kombes flamboyan tersebut.
Kedua, penulis  menduga ada kelompok tertentu di jajaran Polda yang mau “mengaburkan” masalah itu dan bila tidak ada tindakan “kontra” skenario mereka akan berjalan mulus dan kasus randi dan yusuf akan “membusuk” bersama jasad mereka.
Sebagai seorang intel tentu saja gelagat ini terekam dengan baik maka untuk “melumpuhkan” harus ada upaya kreatif dan cara yang dilakukan sangat jitu.
Dua hal mendasar tersebut menjadi pemicu perwira humanis tersebut melakukan langkah diluar kebiasaan para Kombes.  Dan tentu saja Polri membutuhkan Hartoyo-Hartoyo baru  agar polri menjadi maju dan dicintai rakyat.
Dan dibulan November yang identik dengan lagu November rayn namun tahun ini Sultra dihebohkan dengan manuver flamboyan Kombes Hartoyo.
Penulis: Plt Komisaris Bank Sultra, La Ode Rahmat Apiti
Komentar Facebook
BACA JUGA:  "Menguliti" Relawan Politik