Jokowi Tak Hadiri HPS, Mentan RI Sampaikan Permohonan Maaf

52
Menteri Pertanian RI, Sahrul Yasin Limpo (kiri) usai pembukaan HPS ke-39, Sabtu (02/11/19)
Foto: Mita/Lenterasultra.

KENDARI, LENTERA SULTRA.COM –
Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39 yang berlokasi di Desa Puudambu, Kecamatan Angata, Konawe Selatan, Sultra, resmi dibuka oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sahrul Yasin Limpo. Dalam kesempatan tersebut, tak lupa Sahrul menyampaikan permohonan maaf Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) tak dapat hadir dalam pembukaan ajang internasional tersebut.

“Presiden sangat berkeinginan hadir, bahasa tubuhnya dia ingin hadir. Tetapi karena ada tugas negara di luar negeri. Kalau tugasnya di Indonesia pasti hadir. Saya jamin. Beliau meminta maaf dan meminta masyarakat tidak kecewa,” kata Sahrul, Sabtu (02/11/19).

BACA JUGA:  H-2 Penyelenggaraan HPS, Pemprov Sultra Masih Sibuk Urus Jadwal Kedatangan Tamu

Sahrul Yasin Limpo mengatakan, Indonesia memiliki potensi mewujudkan kedaulatan pangan. Namun semua pihak harus ikut membantu, termasuk gubernur, wali kota, bupati, dan kepala daerah lainnya.

Iklan

Ia juga menjelaskan bahwa masalah ketahanan pangan atau masalah pertanian adalah masalah semua orang.

“Masalah pertanian atau masalah pangan adalah masalah perut semua orang. Cara pandang terhadap pertanian harus jadi cara pandang semua orang. Agar semua ikut bertanggung jawab,” tambahnya.

Mentan RI juga mengungkapkan harapannya bahwa setiap sekolah mulai dari sekolah dasar harus ada pelajaran pertanian atau pertanian masuk sekolah (PMS). Tujuannya agar setiap siswa memiliki bekal ilmu pertanian sejak dini.

BACA JUGA:  Pemilihan Wawali Kota Kendari masih Digantung PKS

“Biar mereka tahu sejak sekolah dasar. Biar di depan rumah atau di sekolah ada tanaman seperti cabai, tomat dan lain-lain. Apalagi Indonesia adalah negara tropis. Mataharinya cukup, angin cukup, air cukup, kelembapan cukup,” tutupnya.

Perlu diketahui, dalam pembukaan HPS ke-39 juga turut hadir 12 gubernur/wakil gubernur, 71 bupati dan walikota, 23 duta besar dari 16 negara dan yang terakhir 11 organisasi nasional.

Reporter: Mita Ayu
Editor: Wuu

Komentar Facebook