Pagi Kelam Sang Istri Penanti Suami

649
Pelaku pembunuhan MC di Kendari. (Istimewa)

KENDARI, LENTERASULTRA.COM – Perasaan takut menyelimuti hati Yulianti Yunus dan anaknya Adli. Sejak malam hingga matahari mulai menampakan wujudnya, sang suami, Abu Saila alias Aditya belum juga pulang ke rumah. Padahal informasi sudah ia sebar ke khalayak ramai. Linimasi sosial media dipenuhi kabar hilangnya Aditya. Lengkap dengan laporan polisi soal kepergian pegawai negeri sipil (PNS) Pemprov Sulawesi Tenggara itu.

Mukena Yulianti belum ia lepas dari kepalanya. Menandakan di pertengahan fajar ia berdoa agar suaminya cepat pulang dan ditemukan. Berharap berkumpul kembali bersama dan anak-anaknya. Bukannya kabar baik ia dapatkan, Minggu pagi menjadi duka mendalam yang mungkin tak bisa ia lupakan sepanjang hidup. Suaminya ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa dan didapati banyak luka tusukan.

Mayat Aditya ditemukan pertama kali oleh Hj Nuriana Saleha. Saksi menjelaskan, sebelum menemukan mayat tersebut, ia hendak menyiram bunga depan rumahnya. Namun di saat bersamaan, ia tiba-tiba menemukan mayat terlentang dengan kondisi penuh darah karena luka tusukan.

Dari sinilah, polisi kemudian menduga mayat tersebut adalah Aditya PNS Pemprov Sultra. Kemudian dikabarkan kepada istri dan keluarga Aditya, mencocokan apakah jasad tersebut adalah Aditya.

Pukul 07.00 WITA, Minggu 21 Juli 2019, pesan diponsel Yulianti Yunus silih berganti masuk. Semua mengabarkan soal kepergian Pegawai Dinas Pariwisata ini. Ada juga yang mengucapkan turut berbela sungkawa, memberi penguatan dan keteguhan hati Yulianti. Tidak menyangka akan kabar itu, Yulianti berkali-kali pingsan. Anaknya bernama Adli, pun ikut menangis. Di usia-nya yang masih 13 tahun, ia harus rela hidup tanpa ayah.

Beberapa keluarga almarhum Aditya, memenuhi lokasi penemuan mayat di Jalan Syeh Yusuf, Keluraha Korumba, Kecamatan Mandonga, Kendari. Mereka histeris, kaget dan tidak menyangka Aditya tewas dengan kodisi mengenaskan.

Polisi membentangkan garis penghalang, memastikan kembali apakah mayat yang ditemukan adalah Abu Saila yang dimaksud. Dari wajahnya dipastikan mayat itu adalah Abu Saila alias Aditya. “Iya itu bapaknya Adli”.

Setelah mendapatkan keterangan, polisi lalu melakukan olah tempat kejadian perkara. Dokter polisi dari RS Bhayangkara Kendari datang melakukan visum luar dan membungkus korban untuk dibawa ke rumah sakit guna keperluan penyelidikan lebih lanjut.

Di rumah sakit, Yulianti Yunus tidak bisa berkata apa-apa. Linangan air mata terus membasahi pipinya. Suasana haru pecah setelah sirine ambulance datang membawa jasad Aditya.

“Hanya itu yang dia bilang. Mau pergi bayar indihome. Setelah itu tidak ada lagi komunikasi,” kata seorang kerabat menjelaskan pesan terakhir korban.

Namun keluarga menduga, korban keluar rumah tidak saja untuk satu keperluan. Dari keterangan anak korban, Adli, didapatkan informasi bahwa sebelum keluar rumah, Aditya sempat berbicara dengan seseorang di balik ponselnya. Hanya saja orang itu tidak diketahui siapa dan dimana mereka akan bertemu.

“Dari pembicaraan katanya, korban sempat bilang, iya tunggu selesai salat saya akan turun,” kata kerabatnya lagi menirukan perbincangan Aditya. “Hanya saja kita tidak tahu siapa itu. Mau kemana dan untuk apa. Itu saja komunikasi. Hpnya juga terakhir aktif jam 20.07 Wita,” sambung sang kerabat.

Sabtu 20 Juli 2019 menjadi hari terakhir Yulianti Yunus bertemu dengan suaminya. Sejak Pukul 18.30 WITA, Aditya meninggalkan rumah untuk membayar indihome, hingga keesokan harinya korban langsung tak ada kabar.

Yulianti cemas. Mencoba menghubungi suaminya, namun tidak bisa tersambung. Hp Aditya offline. Baik panggilan biasa maupun panggilan Whatsapp, Aditya tidak bisa dihubungi.

“Makanya jam 03.00 WITA, subuh langsung kami melapor di Polres,” kata adik istri Aditya.

Polisi Olah TKP

Polisi melakukan olah TKP di dua tempat. Pertama di Jalan Syeh Yusuf dan Jalan Benubenua Kendari, (tempat mobil korban ditemukan). Jarak antara TKP 1 dan 2, sekitar 10 km. Dalam mobil Aditya ditemukan bercak darah di kursi penumpang dan sopir, selain itu ada satu buah ponsel miliknya. Di sini polisi langsung menyimpulkan Aditya dibunuh oleh seseorang.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan bukti petunjuk. Adanya nama Aci. Ia berteman dengan korban dan sering berkomunikasi. Nama Aci ditemukan dari ponsel korban yang tersimpan dalam mobil di Kelurahan Benubenua. Aci diketahui menelpon korban pada hari Sabtu, 20 Juli 2019, sebelum korban ditemukan pada Minggu 21 Juli 2019.

Polisi-pun mencari tahu nama Aci tersebut, hingga akhirnya mereka temukan dan mendatangi kediaman nama yang dimaksud di BTN Medibrata, Poasia, Kendari. Namun yang dicari tidak ada.

Informasi lanjutan, pria tersebut menuju kamar kos kekasihnya di Lorong Pendowo, Mandonga, Kendari. Pertemuan Aci dengan kekasihnya itu, untuk keperluan meminta uang rental mobil.

Polisi bergerak lagi menuju kosan kekasih Aci di Lorong Pendowo, Mandonga. Sebelum Aci tiba di kediaman kekasihnya itu, polisi lebih dulu sampai dan meminta kekasih Aci menghubungi kembali sang pelaku untuk datang mengambil uang rental mobil. Dari komunikasi, Aci-pun datang.

“Dari keterangan pelaku, katanya korban telah melecehkan dia. Tetapi kata dilecehkan ini kami belum dalami. Dilecehkan seperti apa dan bagaimana, kami belum sampai kesana. Kasus ini masih terus diperiksa,” kata Kapolres Kendari, AKBP Jemy Junaedi.

Dari proses penangkapan tersebut, polisi sudah menginterogasi pelaku Aci dan mendapatkan keterangan pria yang menjadi pelaku pembunuhan berencana terhadap Abu Saila alias Aditya, pegawai negeri sipil (PNS) di Pemprov Sultra.

Dalam keterangannya, pelaku menyebutkan bahwa awal sebelum proses pembunuhan, korban datang menjemputnya di Lorong Pendowo Mandonga. Aci sedang bersama kekasihnya di sana.

Pasca pertemuan itu, keduanya berkeliling Kota Kendari, sampai pada pukul 21.00 WITA. Masih dalam mobil bernopol DT 1480 IE, korban dan pelaku menepi di Jalan Syeh Yusuf, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga. Tidak berselang lama sesaat mobil menepi, pelaku langsung melancarkan aksinya.

Aci melakukan penikaman sampai Aditya meninggal. Melihat itu, pelaku pergi ke arah Kendari Beach dan membuang pisau sebagai barang bukti penikaman.

“Mobil korban ditemukan di dekat lapangan sepak bola, Benubenua. Mobil disimpan di sana bersama ponsel korban. Kemudian pelaku pergi,” kata Jemy.

Kini Aci mendekam di sel tahanan mapolres. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, Aci diganjar hukuman seumur hidup. Perbuatan Aci disebut masuk dalam pembunuhan berencana. Menurut Kapolres, Aci sesaat sebelum ketemu korban, sudah menyimpan pisau dapur dipinggangnya. Yang mana setelah pembunuhan, pisau tersebut dibuangnya ke laut.

Penulis: Egi

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU