Trauma, Bocah Korban Pelecehan Seksual Tak Mau Ketemu Orang Asing

550

 

Ketgam: Tim Pendamping P2TP2A DPPPA Kota Kendari, Ayub Djafar. Foto: Nanan

KENDARI, LENTERASULTRA.COM – Trauma berat masih menyelimuti salah seorang korban pelecehan seksual, sebut saja Bunga (nama samaran) pasca menjadi korban penculikan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh mantan anggota TNI, Adrianus Pattian.

Bunga takut bertemu orang asing siapapun itu. Dia hanya mau bertemu dengan orang-orang yang dekat dengannya seperti orang tuanya, kakak, paman dan juga tantenya.

Guna mengobati traumatiknya, tim pendamping dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Kendari melakukan kunjungan (home visit) ke rumahnya. Kedatangan petugas DPPPA ini tidak lain untuk memantau perkembangan kondisi korban.

“Dari kunjungan itu, kondisinya perlahan-lahan mulai menunjukkan peningkatan sudah mulai bercengkrama, hanya saja ia tidak mau ketemu orang asing atau orang yang tidak dikenalnya apalagi laki-laki. Dia hanya mau dengan laki-laki kecuali bapaknya. Ingin selalu di dekat bapaknya,” ungkap Ayub Djafar Salah satu tim pendamping dari P2TP2A DPPPA Kota Kendari.

Related Posts

Menurut Psikolog ini, kehadiran mereka saat melakukan home visit ke rumahnya, pertama bertemu si anak sudah menunjukan ketidaknyamanan atas kehadiran dari tim pendamping.

“Kita ajak ngomong, dia sudah ketakukan. Dengan mengeluarkan kata-kata saya nggak mau, nggak mau sambil memeluk orang tuanya,” katanya.

Diakuinya, kondisi ini wajar dialami korban, karena masih merasakan trauma berat. Untuk menghilangkan traumatik seseorang itu berbeda-beda dan butuh waktu. Ada hanya dua minggu bahkan empat minggu, namun tergantung dari traumatiknya.

Dinas DPPPA berjanji terus mengunjungi rumah korban guna memantau perkembangannya, agar benar-benar sembuh dari trauma mendalam.  Selain itu, meminta kepada orang tua untuk terus membantu dengan memberikan dukungan dan kekuatan kepada anak dengan tidak menyudutkan, menghibur, ajak bermain, jangan menanyakan kejadian pada anak agar korban tidak merasa down.

“Kami dari tim pendamping akan terus mendampingi korban hingga sembuh dari traumatiknya dan bisa beraktivitas kembali seperti anak-anak sebaya pada umumnya” cetusnya.

Melalui kesempatan itu, ia meminta kepada masyarakat untuk tidak menyebar luaskan video ataupun foto korban di media sosial berkenaan kasus pelecehan seksual, merahasiakan identitas korban dan keluarga. Hal itu perlu dilakukan untuk melindungi korban dan keluarganya.

Reporter: Nanan
Editor: Fiyy

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU