Sultra Butuh Banyak Petani Muda

178
FOTO : NET Indonesia kini kekurangan petani, termasuk Sultra. Para petani yang sudah uzur, tak lagi punya regenerasi.
FOTO : NET
Indonesia kini kekurangan petani, termasuk Sultra. Para petani yang sudah uzur, tak lagi punya regenerasi.

“Yang bertahan sebagai petani, boleh dikatakan merupakan orang-orang yang tidak punya pilihan hidup lain,”

Muh Nasir, Kadis Tanaman Pangan dan Peternakan, Sultra

LENTERASULTRA.com-Ada problem besar yang dihadapi Bupati Muna, Rusman Emba saat memulai memprogramkan penanaman 30 ribu hektar jagung di daerahnya. Rupa-rupanya, jumlah orang yang tertarik jadi petani lebih sedikit dari luas lahannya.

Keluhan Rusman Emba itu ternyata tak hanya terjadi di Muna. Di seluruh Indonesia, gejala serupa juga terlihat. Kian hari, makin sedikit orang yang mau jadi petani, tidak terkecuali di Sulawesi Tenggara (Sultra).

“Perlu tindakan cepat agar jumlah petani tidak semakin susut yang akan mengancam dunia pertanian,” Muhammad Nasir, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra,  menyampaikan keresahannya lewat sebuah rilis yang diterima lenterasultra.com, Selasa, 3 Oktober 2017.

Nasir punya data. Kata dia, dari angka yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), petani di Sultra pada tahun 2009 masih ada 502.886 orang. “Tetapi di tahun 2015, petani susut jadi 489.289 orang,” paparnya.

BACA JUGA:  Demo Tolak UU Omnibus Law, Massa Bentrok dengan Satpol PP

Melihat angka itu, Nasir menyebut bahwa dalam kurun waktu enam tahun terakhir, jumlah petani berkurang 13.597 orang. “Setiap tahun berkurang 2.266 orang setiap tahunnya atau sekitar 0,45 persen,” Nasir mengimbuhi pernyataannya.

Bagi sang kepala dinas, Data ini setidaknya menunjukkan dua hal. Pertama, petani yang sudah tua atau tidak produktif tidak lagi tergantikan oleh petani baru atau muda. Kedua, terdapat alih profesi dari petani ke pekerjaan lainnya.

Tetapi hal paling mendasar dari fakta penurunan jumlah petani adalah bahwa petani bukan lagi profesi yang diminati masyarakat. Generasi-generasi muda lebih memilih mencari pekerjaan di luar pertanian.

“Yang bertahan sebagai petani, boleh dikatakan merupakan orang-orang yang tidak punya pilihan hidup lain,” simpul Muhammad Nasir.

Melihat kondisi ini, Nasir sangat khawatir karena mengindikasikan bila petani yang bertahan saat ini kualitas sumber daya manusianya rendah. Jadi, berapapun bantuan atau fasilitasi yang diberikan pemerintah, tidak akan optimal pencapaiannya.

Menurut Nasir, dalam pertemuan yang diikutinya di Bogor, pekan lalu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Momon Rusmono mengungkapkan, salah satu program prioritas kementerian pertanian adalah regenerasi petani.

BACA JUGA:  Ali Mazi Bangga, Jembatan Teluk Kendari Bakal jadi Monumen di Sultra

Kegiatan pengawalan dan pendampingan petani yang difasilitasi oleh pemerintah melibatkan mahasiswa, agar mereka tertarik dengan pertanian.

“Para alumni yang baru lulus juga dilibatkan agar mereka mau berkecimpung di dunia pertanian, termasuk para pemuda tani yang ada di masyarakat,” katanya.

Perguruan tinggi yang berada di bawah kementerian pertanian seperti Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) akan diubah menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian.

Jika dulu STPP hanya menghasilkan penyuluh, maka politeknik ini akan menciptakan wirausaha muda di bidang pertanian.

“Dalam waktu dekat, kami akan undang Kepala BPPSDM Pertanian untuk berbicara di depan para bupati/walikota se-Sultra mengenai pentingnya membangun SDM pertanian dan regenerasi petani. Kita berharap para kepala daerah memiliki program prioritas terkait pengembangan SDM pertanian,” pungkas Nasir.(isma)

Editor : Sarfiayanti

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU