Fungka Permata, Armada Legendaris Perangkai Nusantara

1,839

852525862_24222
“Sejak dulu, Fungka Permata dikenal. Kapal ini berlayar jauh sampai ke Maluku. Berhari-hari di laut, tapi selamat sampai tujuan”

Nila, warga Maluku, dulu bermukim di  Baubau

LENTERSULTRA.com-Setahun lalu, Inal sempat mengunjungi neneknya di Taliabo, Maluku Utara. Ia berlayar dari Baubau selama hampir 5 hari menggunakan KM Fungka Permata. “Saya lupa itu (Fungka Permata) I, II atau III. Kapal ini banyak armadanya kalau tidak salah,” kata pemuda berusia 27 tahun ini semalam.

Kisah soal perjalananya itu ia bagi setelah mendengar kabar karamnya KM Fungka Permata III saat menuju Wakatobi. Yang Inal ingat tentang bodi kapal ini, yakni besar dengan aksen warna kekuningan di tengah dinding kapal. Dua lantai.

“Saya kaget dengar. Soalnya kapal ini sangat legendaris dari masa ke masa,” katanya. Saat ia kecil, di Baubau, ia kerap bermain sampai ke Pelabuhan Murhum, Baubau. Diantara deretan kapal yang berlabuh, selalu ada Fungka Permata menunggu penumpang. Ada yang ke Wakatobi, ada pula yang ke Maluku.

Nila, kini menjadi pengajar di Ternate. Dulu, ia sempat bersekolah di Baubau. Ketika kini ia di Maluku Utara, dan sesekali melihat Fungka Permata sampai ke kampungya, ingatannya melintas. “Sejak dulu, Fungka Permata dikenal. Kapal ini berlayar jauh sampai ke Maluku. Berhari-hari di laut, tapi selamat sampai tujuan,” kata perempuan berusia 32 tahun ini.

FOTO JOJON  Petugas mengevakuasi salah seorang penumpang KM Fungka Pertama III
FOTO JOJON
Petugas mengevakuasi salah seorang penumpang KM Fungka Pertama III

Minggu, 17 September, salah satu armada perangkai Nusantara ini karam diterjang ganasnya gelombang laut saat menuju Wakatobi. 27 penumpangnya selamat meski sempat terombang-ambing dilaut selama hampir dua malam. Badan Fungka Permata kini ada di dasar laut perairan Sampolawa, Buton Selatan.

Kisah ini memang tragis. Padahal Juni 2016 lalu, ketika memulai pelayaran rute Baubau-Tomia, ketika ombak berkisar 2-6 meter, sang pemilik bernama La Nali dengan bangga menyebut kapalnya paling aman.

Dikutip dari tribunbuton.com, La Nali  menyebut kapalnya mengutamakan pelayanan, kebersihan, kecepatan. Dan satu faktor ukuran kenyamanan selama berlayar adalah kapal tidak oleng dihempas ombak.
Dengan demikian kondisi dan stamina penumpang tetap akan stabil.

Persoalan kecepatan, La Nali, mengklaim hanya selisih setengah jam dengan kapal lainnya. Ia juga yakin  kapalnya  melaju dengan stabil meskipun dalam kondisi cuaca buruk. Kapalnya didesain untuk melintasi laut berombak bahkan badai.

Sebelum dibeli dan dioperasikan dengan rute Baubau Tomia (PP), kapal ini memang berlayar hingga ke Taliabo.

Klaim La Nali ini akhirnya runtuh oleh alam. Petaka itu datang Minggu pagi, 17 September. 27 penumpang kapal itu nyaris dijemput maut andai tak ada jaket pelampung yang membuat mereka tetap terapung, hingga bantuan datang.

Penampakan KM Fungka Permata yang bertonase besar saat dilabuhkan di Dermaga Murhum Baubau. Tapi ombak membuatnya karam
Penampakan KM Fungka Permata yang bertonase besar saat dilabuhkan di Dermaga Murhum Baubau. Tapi ombak membuatnya karam

Ada seorang penumpang yang paling merasa bersyukur karena hidupnya tertolong. Namanya Santi, usianya 35 tahun. Di perutnya, ada janin berusia 6 bulan, buah cintanya bersama sang suami, Abdul Hasan. “Yang saya pikir anakku kasian,” tuturnya sesat setelah tiba di Pelabuhan Murhum, Senin sore.

Tangisannya pecah sesaat setelah menginjak kembali daratan. Dua hari dan dua malam, ia bertahan dari ganasnya laut. “Kebetulan ada papan. Mungkin pecahan badan kapal. Saya sama suami perpegang di papan itu sekuat mungkin hingga akhirnya bantuan datang,” urainya dengan bibir bergetar.

Dari kisah penumpang lainnya, Hj Musrifah, kapal itu mulai kemasukan air jelang Minggu (17/9) pagi. ABK sempat berupaya mengeluarkan air dengan pompa dan peralatan lainnya. “Tidak lama mesin kapal mati, kapal perlahan tenggelam,”  kata perempuan berusia 56 tahun ini.

Jangankan Fungka Permata, Titanic yang diyakini tak akan pernah tenggelam karena “perkasanya”, hanya butuh semalam untuk nyungsep di dasar laut. Laut Wakatobi menasbihkan keganasannya. Dan nakhodanya, bernama Ahmad Kopi tahu bahwa memang tidak akan pernah lahir pelaut ulung di laut yang tenang(***)

Editor : M Rioddha

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU