Geser Indonesia, Malaysia Kuasai Ekspor CPO ke India

331

JAKARTA, LENTERASULTRA.COM – India tercatat sebagai salah satu negara di Asia yang menjadi importir minyak sawit (CPO)  dari Malaysia dan Indonesia. Jika sebelumnya impor minyak sawit India dikuasai oleh Indonesia, kini posisi itu telah diambil alih oleh Malaysia.

Berdasarkan data The Solvent Extractors’ Association of India (SEA), sebuah badan perdagangan penyuling dan pedagang minyak nabati di India, saat ini Malaysia telah melampaui Indonesia menjadi pengekspor minyak sawit mentah (CPO) terbesar ke konsumen utama India pada 2020/21.

SEA mencatat, ekspor minyak sawit Malaysia ke India melonjak 238 persen menjadi 2,42 juta ton dalam tujuh bulan pertama tahun pemasaran 2020/21 yang dimulai pada 1 November. Selama periode tersebut, pengiriman minyak sawit Indonesia ke India anjlok 32 persen menjadi 2 juta ton. Itu terjadi setelah Indonesia memberlakukan pajak yang lebih tinggi pada ekspor minyak sawit mentah pada Desember untuk mengumpulkan dana bagi program biodiesel berbasis sawit yang ambisius, yang bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan minyak nabati di dalam negeri. Pajak ekspor Indonesia berada pada level tertinggi selama lima bulan berturut-turut.

“Malaysia diuntungkan dari pajak ekspor Indonesia. Mereka mendapatkan pangsa pasar dengan menawarkan minyak sawit dengan harga diskon dibandingkan pasokan Indonesia,” kata B.V. Mehta, Direktur Eksekutif SEA, melalui keterangan tertulisnya, dikutip dari asiatoday.id.

“Meski demikian, peningkatan pengiriman Malaysia ke India akan segera dibatasi karena Indonesia akan memangkas pajak ekspor,” kata Sandeep Singh, direktur The Farm Trade, sebuah perusahaan konsultan dan perdagangan yang berbasis di Kuala Lumpur.

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada Senin (21/6/2021) bahwa pemerintah akan memangkas tarif pagu untuk pajak ekspor CPO menjadi USD175 dolar per ton dari USD255 dolar tanpa memberikan kerangka waktu.

Produsen utama Indonesia mengenakan bea dan pajak sebesar USD438 dolar per ton untuk pengiriman minyak sawit pada Juni. Sebagai perbandingan, bea ekspor Juni di saingannya Malaysia hampir USD90 dolar.

“Hal itu membantu eksportir Malaysia untuk menawarkan minyak sawit dengan diskon besar bahkan setelah mempertahankan margin yang sehat,” kata Anilkumar Bagani, kepala penelitian di pialang minyak nabati Sunvin Group yang berbasis di Mumbai.

Eksportir Malaysia menawarkan diskon sebesar USD100 dolar per ton pada Mei tetapi sekarang menawarkan diskon yang lebih kecil sebesar USD25 dolar karena Indonesia akan mengurangi pajak ekspor.

“Pemotongan pajak ekspor pada akhirnya dapat membantu Indonesia mendapatkan kembali pangsa pasar,” kata Singh.

“Dengan pasar mengalami penurunan tajam lebih dari 25 persen dalam dua minggu terakhir dan juga diskusi tentang pengurangan pajak minyak Indonesia, peralihan kembali ke Indonesia mungkin akan segera terjadi,” pungkas Singh. (ATN)

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU