FAO: 10 Juta Hektare Hutan Hilang Setiap Tahun di Dunia

72

JAKARTA, LENTERASULTRA.COM – Kawasan hutan di dunia berada dalam kondisi kritis. Melalui momentum Hari Hutan Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Maret, negara-negara di dunia didorong untuk mengambil langkah nyata dalam melestarikan eksosistem hutan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) mendengungkan, setiap tahun dunia kehilangan 10 juta hektare hutan.

Menurut FAO, degradasi lahan telah mempengaruhi hampir 2 miliar hektare atau setara dengan wilayah yang lebih luas dari Amerika Selatan. FAO mengingatkan deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan peningkatan gas rumah kaca dan menyebabkan lebih dari 80 persen  tumbuhan hutan, serta 5 persen hewan hutan berada dalam risiko “sangat tinggi” untuk punah.

“Hutan yang sehat juga berkontribusi bagi kesehatan manusia. Hutan memberikan manfaat kesehatan bagi semua orang, seperti udara segar, makanan bergizi, air bersih, dan ruang rekreasi,” kata Kepala Perwakilan Ad Interim FAO, Richard Trenchard, melalui keterangan tertulisnya, seperti dikutip asiatoday.id, Minggu (21/3/2021).

Trenchard mengungkapkan, 25 persen  dari semua obat-obatan di negara maju berasal dari sumber nabati, sedangkan kontribusinya jauh lebih tinggi mencapai 80 persen di negara berkembang. Selain itu, hutan juga menyediakan pangan sehat, termasuk masyarakat Adat biasanya mengonsumsi makanan dalam jumlah besar yang dipanen di hutan.

“Kita semua juga mengonsumsi makanan yang bersumber dari hutan seperti nangka, durian, salak, duku, mangga, rambutan, petai, ati hati, dan banyak lagi makanan lain yang berasal dari hutan,” kata Trenchard.

Trenchard menegaskan kerusakan hutan bisa merusak kesehatan lingkungan dan manusia, serta meningkatkan emisi karbon dan mengurangi keanekaragaman hayati.

“Kita harus ingat bahwa hampir sepertiga dari penyakit menular baru terkait dengan perubahan penggunaan lahan seperti penggundulan hutan,” ujar Trenchard.

Pemerintah Indonesia merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa laju deforestasi tahun lalu mencapai titik terendah selama lima tahun terakhir. Pada 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah merehabilitasi sekitar 400.000 hektare hutan. Saat terjadi pandemi, KLHK berencana menambah jumlah bibit yang akan ditanam pada tahun 2021.

“Kemajuan tersebut benar-benar kabar baik bagi kita semua. Restorasi dan pengelolaan hutan yang lestari akan membantu mengatasi perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati,” ujar Trenchard yang memuji upaya pemerintah.

Dia menyebut hutan menyediakan lebih dari 86 juta sumber mata pencaharian di seluruh dunia dan mendukung penghidupan lebih banyak orang.

State of Indonesia Forest (SOIFO) 2020, yang diterbitkan oleh KLHK, melaporkan bahwa lebih dari 400.000 orang dipekerjakan secara langsung dalam produksi hutan kayu dan nonkayu setiap tahun di Indonesia.

Kayu dari hutan yang dikelola dengan baik mendukung beragam industri, mulai dari pembuatan kertas hingga pembangunan gedung-gedung tinggi.

“Investasi dalam bentuk restorasi hutan akan membantu pemulihan ekonomi dari pandemi dengan menciptakan lebih banyak lapangan kerja,” tandas Trenchard. (ATN)

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BERITA TERBARU